Mencari Berkah di Era Virtual

Dalam esai yang cukup panjang tuan guru Syekh Seyyed Hossein Nasr kurang lebih menuliskan begini “Jika jiwa Nabi adalah mata air dari spiritualitas Islam, Al Qur’an bagaikan halilintar yang setelah menyambar kontak listrik manusia, membuat mata air ini memancar keluar atau seperti air yang turun dari langit yang menyebabkan sungai-suangai mengalir dari mata air ini”. Sebuah pujian tentang kebesaran jiwa Nabi tentang sebuah laku spiritual yang ada pada Nabi Muhammad SAW yang kemudian diwariskan kepada generasi selanjutnya dan sampai saat ini.

Untuk mencapai laku spiritual semacam itu dan kehendak utama dalam jalan pencarian mistik tentunya seseorang harus dibekali dengan pengetahuan yang mumpuni. Maka dari itu pengenalan akan ajaran tuhan dalam bentuknya yang paling nyata harus berdasarkan kepada pembimbing atau dalam istilah lain yaitu seorang Murabbi. Tanpa seorang Murabbi seseorang tidak akan mendatangkan hasil yang maksimal. Bahkan dalam ungkapan lain disinggung dengan nada keras “Barang siapa belajar tanpa guru, maka gurunya adalah Syaithon” tentunya pengetahuan semacam itu jelas tidak akan memberikan kemanfaatan secara menyeluruh. 

Sikap kehati-hatian yang harus diperhatikan oleh faqir adalah laku mencari guru yang kredibel dan mumpuni dimana dalam sebuah catatan lain Syekh Hujatul Islam Imam Ghozali menerangkan kepada kita terhadap beberapa kriteria yang seharusnya dijadikan guru salah satunya adalah orang yang kredibel dan mumpuni. 

Ditengah bencana pandemi Covid-19 dan dengan segala konsekuensinya kita tahu bahwa WFH menuntut segala sesuatu dilakukan di rumah saja. Lantas bagaimana kita bersikap di tengan pandemi semacam ini? sebagai muslim yang mengimani segala sesuatu baik dan buruk itu datangnya dari Allah, maka sudah sepatunya lah kita masih bisa bersukur, khususnya tentang merebaknya kajian-kajian agama secara virtual. Hal semacam ini tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, kita dibanjiri dengan berbagai kajian dari mulai belajar ilmu fiqih, tafsir, tajwid, tasawuf dan keilmuan lainnya. Era virtual menjadi trend baru dalam belajar agama, semuanya tersaji dalam media online baik itu Youtube, Instagram, Facebok yang dapat dengan mudah diakses. Namun demikian trend semcama ini pun masih mendapatkan respon negative dari sebagian kalangan. Bahkan sebagian orang berpendapat dan mempertanyakan bagaimana kita mendapatkan berkah ilmu dari sebuah kajian virtual ?
Berkah Virtual
Dalam sebuah artikel Jean-Louis Michon menulis, dengan mengutip hadis Nabi SAW “Barang Siapa mengenal dirinya sendiri berarti dia mengenal Tuhannya” hadist ini cukup populer khususnya dalam konteks proses pencarian jati diri tentang sumber laku mistik. Mungkin juga secara umum konteks hadis ini ingin berbicara kepada kita bagaimana cahaya surga dapat menyinari dan melewati hati seorang pencari ilmu tanpa penghalang sedikit pun. 

Maka dari itu ijinkan abah untuk memaparkan sebuah tafsir sederhana tentang keragu-raguan kaum netizen terhadap berkah mencari ilmu lewat media online meskipun sumber gurunya jelas dan diakui keilmuannya. Sebuah pemahaman tentang usaha untuk mendatangkan nilai-nilai keberkahan meskipun sumber tersebut datang lewat media daring. Michon berpendapat bahwa kemanfaatan ilmu pengetahuan tentunya harus dimulai dengan menyadari bahwa kelemahan-kelemahan kita yang pastinya tidak akan mendatangkan ridha Allah yang berujung kepada tidak masuknya (Nur Allah) cahaya Allah kepada hati seseorang. Untuk mendatangkan ridho Allah seseorang harus menghilangkan kelemahan-kelemahan tersebut dengan disiplin asketik (al-mujahadah) sebuah proses yang diawali dengan penyucian jiwa. Perjalanan ini berusaha untuk menciptakan kondisi dimana kehidupan selalu diniatkan untuk mengabdikan diri kepada Allah. Laku hidup semacam ini menuntut seseorang untuk terus (bermuhasabah) sebuah kondisi untuk terus memeriksa kesadarannya. Titik tekan dari Muhasabah adalah upaya terus menerus untuk melihat bagaimana ukuran terhadap niat awal itu dijalankan. Bahkan para ahli hadist bersepakat bahwa segala sesuatu selalu disandarkan berdasarkan niat. 

Bersambung . . .

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar