Dinamika Agama Khonghucu

Perkembangan Aliran Konfusius

Setelah wafatnya konfusius, maka penyebaran ajarannya dilanjutkan dengan murid-muridnya yang dimana para muridnya tersebut menyebarkan ajaran konfusius dengan jalan masing masing. Karena mereka memberikan tekanan yang berbeda-beda pada ajaran guru mereka, maka lambat laun muncullah beberapa perbedaan yang semakin lama semakin bertambah besar karena masing-masing mengembangkan pemikiran tersendiri sesuai dengan kepentingan dan keyakinannya. Meskipun berasal dari sumber yang sama, timbul beberapa aliran dalam konfusianisme.

Ajaran-ajaran Mencius: orang memiliki pembawaan yang baik sejak dilahirkan, kebesaran hati (Jen), sifat berbudi (Yi) kesopanan (Li) dan kebijaksanaan (Chich) 

Ajaran-ajaran Hsun Tzu: jika Mencius Mencius di anggap mewakili sayap ajaran konfusius yang idealistic, maka Hsun Tzu mewakili sayap realistic. Dia tidak percaya terhadap Tien (Sorga) sebagai pribadi Tuhan. Ia juga menolak semua tahayul. Seperti ramalan mengenai nasib dan filsafat, dan kemanjuran do’a-do’a. ide lainnya adalah bahwa sifat dasar manusia itu jahat, dan kebaikan itu diperoleh dari lingkungannya.

Perkembangan Lebih Lanjut Agama Khonghucu

Selama periode Chin (221-207 S.M.)muncul reaksi yang kuat kebebasan berpikir, yang dimana akhirnya kaisar Shih Huang Ti mengontrol dan mengawasi pikiran rakyatnya dengan ketetapan yang keras dan menyuruh membakar semua tulisan aliran pemikiran yang ada kecuali menyangkut obat-obatan, ketuhanan dan pertanian. Dan lebih dari 469 sarjana dibunuh.

Tetapi pada periode berikutnya yaitu dibawah kekuasaan dinasti Han (206 S.M.-220 M), kebebasan berfikir muncul kembali, tujuannya adalah agar ajaran Konfusius dimajukan dan dikembangkan kembali. Konfusianisme dihidupkan kembali bukan hanya sebagai pemikiran filsafat, tetapi sebagai agama yang penuh dengan aspek-aspek spiritual, moral dan kultural. Tokoh utamanya dalam gerakan ini adalah  Tung Chuang Shu yang berpendapat bahwa keunggulan manusia terhadap makhlu-makhluk lainnya adalah terletak dalam kapasitasnya menerima wahyu dari Tuhan dan membentuk tindakan-tindakan dan sifat-sifatnya sesuai dengan wahyu tersebut.

Pada permulaan periode Han, kemenangan paham Konfusius hampir dapat dipastikan, namun pada waktu yang sama dalam kalangan pemikir ajaran Konfusius timbul pertentangan yang tajam menyangkut penafsiran dari buku-buku klasik dan status konfusius sendiri. Di satu pihak uncul golongan yang meningkatkan konfusius sampai pada status Tuhan penyelamat, sementara di sisi lain ada golongan yang tetap mempertahankan paham bahwa Konfusius hanyalah seorang Nabi atau Guru. Selama periode golongan tersebut sangat memberi pengaruh yang besar, sehingga pada permulaan abad ke 9 M. ditetapkan cara untuk memuja Konfusius. [1] Keruntuhan dinasti Han diikuti dengan suatu periode kekacauan moral di Cina. Ajaran Konfusius kemudian kehilangan tempat pada kalangan intelek yang banyak diantara mereka berbalik kepad aajaran Tao dan Budhisme.

Neo Konfusianisme.

Pada abad pertengahan muncul dan berkembang suatu aliran yang disebut Li Hsuch Chia. Yang biasa dikalangan barat disebut dengan Neo Konfusianisme. Sekalipun aliran ini adalah para intelek dan murid-murid spiritual Konfusius, namun kegiatan piker mereka pada umumnya didorong dan ditentukan oleh spekulasi para pengajar aliran Chan atau Zen. Oleh karena itu, aliran ini tidak berusaha memertahankan atau membangkitkan kembali ajaran murni Konfusius, melainkan berusaha melakukan revisi atau perbaikan terhadap sistem etika, moral dan kepercayaan lama berdasarkan perkembangan-perkembangannya yang baru.

Hubungan Antara Konfusius, Budha dan Tao

Tiongkok mempunyai mempunyai 3 pandangan keagamaan yaitu  Konfusianisme, Budhisme, dan Taoisme. Ketiganya hidup berdampingan secara damai bahkan salah satu sama lain saling mempengaruhi. Taoisme sebagai salah satu pandangan keagamaan merupakan  bentuk kepercayaan yang mempunyai dasar pemujaan kepada roh-roh nenek moyang, [2]

Dengan hidup berdampingan dan saling isi mengisi, seorang penganut Konfusius misalnya akan meminta pendeta agama Budha memberikan prespektif yang menarik tentang orang mati. Selain itu juga akan mempraktekan ajaran-ajaran Tao untuk menentukan tempat penguburan yang baik.[3]

Artikel ini ditulis oleh Mahasiswa Abah yang bernama Ahlan Khairan Prodi Studi Agama Agama, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Bersambung . . . 



[1] Agama-agama Dunia, (Yogjakarta: penerbit Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Usuludddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN SUKA , 2012) hal. 293.

[2] Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama besar, (Jakarta:Golden Terayon Press, 1986) hal. 36

[3] Agama-agama Dunia, (Yogjakarta: penerbit Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Usuludddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN SUKA , 2012) hal. 294

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar