Agama Khonghucu Sebuah Pengantar

Sebuah Pengantar

Agama Khonghucu (Kong Jiao) yang dikenal di Indonesia pada saat ini, istilah aslinya disebut ‘Ru Jiao’ artinya agama dari orang-orang yang lembut hati, terbimbing dan terpelajar. Tujuan hidup menurut Khonghucu adalah terciptanya keharmonisan dalam hubungan antara Tian, alam semesta dan manusia (Tian, di, ren). Oleh karena itu, bagi para penganut konghucu membina diri (xiu shen) adalah merupakan pokok yang menjadi dasar utama bagi manusia dalam membina hubungan yang harmonis dengan sang pencipta, yakni Tuhan Yang Maha Esa, dengan lingkungan alam sekitar, dan juga dengan sesamanya. Oleh karena itu manusia wajib patuh dan taat pada firam Tian (Tian Ming) yang telah dikaruniakan kepada berwujud watak sejati (Xing) dengan menjalani hidup sesuai dengan jalan suci (Dao) sebagaimana dibimbingkan melalui ajaran agama (Jiao) hingga dia menjadi seorang Junzi, yakni seorang susilawan atau seorang yang berbudi luhur.

Nabi Kong Zi bercita-cita untuk mewujudkan tercapainya kebersamaan yang agung (da tong shi jie), yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat hidup rukun, damai sejahtera, seluruh angota masyarakat memiliki perkerjaan yang tetap, tidak ada orang-orang yang hidupnya terlantar, adanya penegakan hukum dalam pemerintahan sehingga para pejabat pemerintahan dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik serta memberikan pelayanan dan kesejahteraan kepada seluruh rakyat. Sebaiknya rakyat yang dipimpinnya, diharapkan mentaati hukum yang berlaku dan memiliki loyalitas terhadap bangsa dan negaranya. Dengan demikian akan tercipta Negara yang damai, aman dan sejahtera.

Kepercayaan Asli Tiongkok Kuno

Cina adalah sebuah Negara yang mempunyai sejarah cukup panjang, yang konon dimulai sekitar tahun 2700 S.M. pada waktu itu tradisi dan lembaga-lembaga di cina sudah di bakukan, sudah membudaya dan tersusun secara rapi. Beberapa sumber kuno, seperti Sje-tsing,buku tentang pujian, dan Shu Ching, buku tentang sejarah, memberi kiasan bahwa bangsa cina purba adalah monoteisme, yakni percaya pada satu Tuhan. Nama-nama yang mereka berikan kepada Tuhan itu adalah Shang-Ti, yang berarti penguasa tertinggi, dan Tien, yang berarti sorga.

Masyarakat Tiongkok tradisional percaya bahwa alam adalah sesuatu yang sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka, dan mereka membagi alam menjadi tiga, yang mereka kenal dengan konsep tiga alam yang menjadi inti kepercayaan masyarakat Tiongkok kuno, tiga alam yang dimaksud adalah : Alam Langit (Tian Jie) adalah menunjuk pada alam yang didiami dan menjadi tempat kegiatan para raja-raja Langit (Tian Wang) dan dewa-dewi langit (Tian Shen). Alam ini dianggap sebagai pusat pemerintahan alam semesta, yang mengatur seluruh kehidupan di alam bumi. Orang-orang besar yang berjasa di bidangnya masing-masing terhadap masyarakat Tionghoa di zamannya dapat naik menjadi dewa-dewi di alam Langit. Alam Bumi (Ming Jie) adalah menunjuk pada bumi tempat kita berada, yang menjadi tempat tinggal dan tempat kegiatan dari seluruh makhluk hidup. Dewa-dewi dan pejabat di alam Langit bertanggung jawab melaksanakan tugas pemerintahan mereka di alam Bumi. Juga disebut sebagai Yang Jian ataupun Ren Jian. Alam Baka (You Jie) adalah menunjuk pada alam di bawah bumi ataupun alam sesudah kematian, yaitu alam yang menjadi tempat domisili dan kegiatan dari roh-roh (Ling) dan hantu (Gui) dari manusia setelah meninggal dunia. Di alam ini, ada sekelompok dewa dan pejabat alam yang khusus memerintah di alam ini. Dalam kepercayaan tradisional, leluhur orang Tiongkok mempercaya i bahwa kehidupan setelah meninggal adalah lebih kurang sama dengan kehidupan manusia di dunia ini. Di alam ini, setiap orang akan menjalani pengadilan yang akan membawa kepada hadiah maupun hukuman dari dewa dan pejabat di alam ini. Alam Baka keseluruhan berjumlah 10 Istana Yan Luo (Shi Dian Yan Luo) dan 18 Tingkat Neraka (Shi Ba Ceng Di Yu). Jadi Tuhan disini bersifat teisme, menciptakan dan berperan aktif terhadap alam.

Hok An Kiong Magelang

Sikap terhadap alam Alam bagi masyarakat Tiongkok kuno adalah sesuatu yang patut dihormati, ini dikarenakan bagi leluhur Tiongkok dizaman dulu alam menjadi tantangan untuk bertahan hidup. Menurut mereka dialam ini ada yang menguasainya, yang mereka kenal dengan dewa-dewi. Seperti Yu Huang Da Di ( Raja Langit), merupakan bentuk penghormatan pada langit. Dan bentuk penghormatan ini adalah penghormatan paling tua, karena penghormatan terhadap alam sudah ada sebelum penghormatan terhadap yang lainnya. Tentang hormat menghormati ini juga tidak lepas dari pengaruh Konfusianisme yang sangat menekankan pentingnya menghormati para leluhur. terutama yang berjasa dan berkontribusi bagi orang banyak. Bentuk penghormatan terdiri dari tokoh-tokoh sejarah besar, tokoh-tokoh mitologi yang dianggap sebagai leluhur jauh maupun dekat, Bila diperhatikan, maka hampir semua dari dewa-dewi yang ditinggikan di dalam kepercayaan tradisional ini adalah dimanusiakan tanpa memandang bentuk asalnya. Ini terutama terlihat dalam bentuk penghormatan pada alam maupun bentuk-bentuk lain. Namun apapun bentuk yang ditunjukkan (patung, papan nama penghormatan dll), yang dipuja dan dihormati tentu bukan bentuk real darinya. Jadi yang dilakukan dalam kepercayaan tradisional ini bukanlah memuja sang patung ataupun papan tadi, namun adalah memuja dan menghormati dewa-dewi yang bersangkutan.



Sistem kalender, upacara, dan korban Peradaban China kuno sudah memiliki sistem kalender yang koperehensif. Sistem kalender China menggabungkan berbagai elemen yang dipadukan secara komperehensif seperti :

• Elemen matahari

• Elemen bulan

• Elemen shio (rasi bintang)

• Elemen energi ( Yin dan Yang) dan

• Karakteristik alam

Untuk mensingkronkan keempat elemen tersebut sistem penanggalan China memiliki autokoreksi yakni dengan munculnya lun gwe’ atau tahun kabisat China yang terjadi antara dua atau tiga tahun sekali, berselang satu kali musim. Sistem kalender China memiliki sistem hari, bulan, tahun, priode 12 tahun dan 60 tahun. Priode 60 tahun diperoleh dari kombinasi tiga faktor ( 12 shio [Tikus, Kerbau, Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Kera, Ayam, Anjing, dan Babi], 5 unsur [Kayu, Api, Tanah/ Bumi, Logam, dan Air], 2 energi [Yin dan Yang] , ini artinya hanya setahun dalam enam puluh tahun. Angka 60 diperoleh dari kelipatan nilai terkecil atau KPK dari bilangan 12, 5,dan 2 ) sehingga akan terjadi hal yang sama setiap 60 tahun sekali, misal tahun tikus api 1936 akan terulang kembali pada tahun 1996 ( 60 tahun kemudian. Selain itu bangsa tiongkok kuno selalu mengadakan upacara dengan tujuan untuk menghormati dewa-dewi. Upacara selalu ditetapkan pada saat yang khusus dalam kehidupan manusia. Sikap pemujaan ini menimbulkan hal-hal yang tabu dan sakral dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, kehidupan masyarakat Tiongkok kuno baik dalam kalangan bangsawan maupun rakyat jelata selalu diikat dengan peraturan yang bertujuan mempertahankan harmonisasi antara satu dengan yang lain, antara manusia dengan makhluk lainnya, antara bawahan dan atasan, antara susunan dunia dengan susunan yang ada dilangit, dan antara manusia dengan alam sekitarnya. Dan harmonisasi ini juga dianut oleh konfusianisme sebagai keseimbangan.[2]

Khonghucu/ Konfusianisme

Konfusius adalah nama Latin dari K’ung Tzu atau Kong Hu Tsu atau Kung. Ia dilahirkan dinegeri Lu, yang sekarang adalah provinsi Shantung, pada tahun 551 S.M. dari sebuah keluarga yang sederhana,  jujur dan setia berbakti kepada Thian. moak Konon kelahirannya diiringi oleh peristiwa-peristiwa ajaib, dan pada tubuhnya juga tampak  tanda-tanda yang luar biasa. Semua keberhasilannya adalah berkat usaha dan kerja kerasnya sendiri. Kariernya dimulai sebagai pengawas lumbung padi di daerah asalnya, dan akhirnya diserahi tanggungjawab pekerjaan umum.

Pada tahun 528 S.M. dia berhenti dari pekerjaannya karena kematian ibunya. Kemudian ia mengasingkan diri untuk belajar dan melakukan meditasi. Akhirnya ia muncul dari pengasingannya sebagai Guru, dan berhasil menarik sejumlah besar murid yang setia. Pada usia 50 tahun ia memasuki kehidupan masyarakat umum dan ditunjuk sebagai Kepala Hakim di kot Chung TU, dan segera pula di angkat sebagai Menteri Pekerjaan dan Pengadilan. Ia berhasil membuat negara menjadi tentram dan adil, sehingga kejahatan dan kerusakan akhlak menjadi hilang.

Pada tahun 479 S.M.konfusius terpaksa pergi meninggalkan negerinya dan mengembara. Selama 14 tahun, bersama sekelompok kecil muridnya yang setia, ia pergi dari satu tempat ketempat lain. Ketika diizinkan kembali ke negerinya, ia berusia 68 tahun. Sisa hidupnya dihabiskannya untuk mengajarkan pahamnya dan meneliti warisan-warisan lama. Ia menghasilkan sebuah karya yang disebut Ch’un-ts’in, Sejarah Musim Semi dan Musim Gugur. Konfusius meninggal dunia pada tahun 470 S.M.

Biografi kepribadian konfusius dan cara hidupnya terdapat dalam laporan-laporan para muridnya yang dihimpun dalam Lan Yu (Analekta kehidupan konfusius), yang antara lain menyebutkan bahwa Konfusius adalah orang yang mudah bergaul selalu tampak gembira, halus, teliti, hormat dan menghargai orang lain, sederhana dan bersungguh-sungguh ramah sopan dan sebagainya.[3] 

Beberapa Ajaran Konfusius.

Beberapa ahli mengatakan bahwa Khong Hu Cu, bukan pencipta agama atau konseptor kebenaran baru bagi manusia, ia adalah sosial reformer (pembaru masyarakat) dari masyarakat pola lama kepada masyarakat pola baru. Yang dimana dia sebelumnya tidak mengemukakan soal Agama dan ajarannya hanya bersifat moral susila. Hukumnya diperkokoh oleh kaidah “langit” yang dipandang sebagai kaidah tertinggi. Ajaran Khong Hu Cu sebernarnya adalah gabungan antara dua unsur : kepercayaan agama bangsa China Kuno, ditambah dengan ajaran moral Khong Hu Cu.[4]

Salah satu ajaran moralnya adalah:

Setiap manusia harus mempunyai Yen, yang mengandung pengertian bahwa setiap insan harus terdapat dalam dirinya suatu kebaikan, budi pekerti, cinta dan kemanusiaan, (hubungan) Watak yang berhubungan erat dengan Yen ialah “Chung Tzu”. Bial orang telah memiliki Yen, maka Chung Tzu muncul sebagai watak ideal daii padanya. Chung Tzu di pandang sebagai lambing bagi orang yang bijaksana yang percaya terhadap diri sendiri dan mempunyai rasa tanggungjawab. Bilamana orang telah memiliki dalam dirinya Yen dan Chung Tzu maka ia telah mempunyai ikatan dengan “Li” yang artinya mempertahankan segala sesuatu yang telah ada dalam keserasian hubungan antara satu dengan yang lain. Konsep yang terpenting dari Khong Hu Cu adalah “WEN”  yang artinya damai (bentuk kehidupan yang tentram)[5]

Konfusius menghindari membicarakan hal-hal yang  metafisis dan abstrak. Dia juga tidak pernah berbicara tentang keajaiban, kekuatan, atau masalah ketuhanan. Tetapi, tidak ada keragu-raguan bahwa Konfusius percaya pada Tuhan dan bahwa ia adalah seorang monoteis yang etis. Ia menyatakan bahwa kehendak Tuhan telah di bukakan untuknya dan karena misinya adalah membuat kehendak tersebut berlaku di dunia ini. Salah satu perkataannya adalah Tuhan mempercayakan daku dengan misi ketuhanan.[6]

Artikel ini ditulis oleh Mahasiswa Abah yang bernama Ahlan Khairan Prodi Studi Agama Agama, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Bersambung . . . .

 



[1] Agama-agama Dunia, (Yogjakarta: penerbit Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Usuludddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN SUKA , 2012) hal. 282.

[2] http://poetimy.blogspot.co.id/2014/10/tradisi-kepercayaan-china-kuno-dan.html

[3] Agama-agama Dunia, (Yogyakarta: penerbit Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Usuludddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN SUKA , 2012) hal. 284-285.

[4] Agama-agmaa besar masa kini, (Yogjakarta : Pustaka Pelajar) hal. 117.

[5] Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama besar, (Jakarta:Golden Terayon Press, 1986) hal.29-35.

[6] Agama-agama Dunia, (Yogyakarta: penerbit Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Usuludddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN SUKA , 2012) hal.286.

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar