Argopuro Di Penghujung Kemarau

Berawal dari obrolan basa basi di meja kopi, pada sudut beranda sebuah warung di pinggiran kota Jogja (“Lembayung Kopi”) perjalanan ini dimulai. Di tengah perbincangan tersebut, tercetuslah sebuah keinginan yang seakan menjadi kerinduan bersama selama ini. Sama-sama merindu akan sebuah pendakian karya agung sang Maha Pencipta, menyapa lalu merenung pada puncaknya, apa sejatinya yang kami cari. Singkat kata, disepakatilah bersama, Gunung Argopuro menjadi yang dituju. Gunung yang lahir dan tumbuh diantara dua kabupaten-- Probolinggo dan Situbondo, Jawa Timur.

Mengapa Argopuro menjadi yang dituju atas sebuah rindu? Jawaban sederhananya mungkin karena Puncak tersebut menyandang gelar sebagai track terpanjang di Pulau Jawa. Maka, kami yang ingin merawat jiwa agar tetap muda, Bibah Namharru, Dudi Malik (cucu Daeng Matitta), Abde dan Abah Jumhana (Vloger Tua) akan menjajaki peruntungan pada jalur pendakian tersebut. Ekspedisi akan dimulai dari tanggal satu dan berakhir pada tanggal tujuh Desember, penghujung bulan di tahun dua ribu sembilan belas ini. Dan Ini adalah catatan perjalanan yang bisa Abah sajikan, semoga bermanfaat dan menjadi semangat bagi para khalayak semua. Hingga tertarik bahkan jatuh cinta menjelajahi alam liar nun eksotik deretan pegunungan Hyang Barat dan Hyang Timur, Puncak Argopuro-Puncak Rengganis-Puncak Arca.

Hari ke-Satu (I) "Asa yang Menderu"

Seminggu telah berlalu, kini tiba waktu yang ditunggu. Memulai perjalanan tuk menggapai hal baru dan penuh makna sudah tentu. Di sebuah stasiun kereta tua kami bertemu, sebagaimana rencana perjalanan yang disepakati minggu lalu. Stasiun Lempuyangan yang tak pernah jemu menghantar dan menyambut para tamu, orang-orang dahulu ataupun pendatang baru. Pagi ini, dia kan melepas kepergian kami yang sementara waktu. Jam tua stasiun yang tergantung dan selalu terselimuti debu pada tembok tua itu telah menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh lima menit. Suara deru mesin kereta yang ditunggu belum kunjung tiba. Petugas stasiun bercerita, bahwa Logawa tertahan di stasiun Purworejo. Sebab jalur terhalang loko yang mogok, menuntut perbaikan. Kumandang adzan dzuhur menjelang, akhirnya Logawa pun datang. Menata barang lalu duduk tenang, suara klakson kereta pun mengembang, pertanda Logawa siap melakukan perjalanan untuk semua penumpang. Termasuk kami  dengan hati yang ikut berdendang pada irama deru roda dan mesin kereta pada sebuah perjalanan.
Sesampai di stasiun kota Probolinggo, suasana kota baru terasa berbeda dan asing bagi kami yang baru pertama kali mengunjunginya, suasana kota yang menyenangkan dan cukup menghangatkan. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, usai menghubungi pemilik kendaraan carteran yang telah kami pesan jauh hari sebelumnya, kami rehat sejenak dan makan malam sembari menunggu kendaraan jemputan tiba. Tak lama kemudian kendaraan yang akan mengantarkan kami ke basecamp pendakian via Baderan pun tiba. Setelah dua jam perjalanan dari stasiun kota Probolinggo, akhirnya kami pun tiba di basecamp pendakian Baderan. Malam telah kian larut, kami segera beristirahat untuk menghilangkan lelah perjalanan seharian tadi, agar pagi harinya dapat memulai pendakian di pagi buta dengan kondisi fit dan penuh semangat keceriaan tentunya.

Untuk menjangkau puncak Argopuro via Basecamp Baderan dan turun di Bermi (lintas istilah para pendaki) kita tentunya membutuhkan waktu yang cukup lumayan lama. Dimana butuh lima hari empat malam waktu tempuh yang digunakan. Nah kali ini kita memulai pendakian tepat pada tanggal 2 Desember 2019 yang jatuh pada hari Senin. Seperti biasa sebelum mendaki kita harus menyelesaikan urusan administrasi terlebih dahulu dan di Argopuro tiket masuk-nya dihitung perhari loh. Dimana dalam satu hari seorang pendaki dikenakan cas sebesar Rp. 20.000 lumayan cukup mahal juga yah, dan umum-nya petugas jaga memberikan batas waktu maksimal 5-hari 4 Malam.  Dan perlu diketahui terdapat beberapa pos untuk menuju puncak Argopuro diantaranya Bascamp Baderan, Pos Mata Air I, Mata Air II, Cikasur, Cisentor, Rawa Embik, Sabana Lonceng, Puncak Argopuro, Puncak Rengganis, Puncak Hyang, Cemoro Limo, Taman Hidup, dan Turun Bascamp Bermi.


Penampakan Para Jomblo di Bascamp Baderan


Mari kita mulai di titik 0 KM bascamp Baderan. Jarak tempuh untuk bisa sampai menuju pos Mata Air I adalah 8 Jam perjalanan di atas rata-rata. Setelah menyelesaikan administrasi kita mengisi perut dengan nasi telor khas Baderan, oh yah tidak usah repot-repot masak karena di bascamp ini terdapat beberapa warung nasi milik warga yang pagi hari sudah buka, jadi tinggal pesan dan jangan lupa bayar yah. Administrasi sudah, sarapan pagi sudah dan saatnya berangkat meluncurrrrr. . . . .
Dimulai di angka 08:00 WIB teng, kita mulai melangkahkan kaki menuju arah timur (kayaknya begitu deh arah timur) soalnya Abah juga gak tau maklum pendatang jadi tidak tahu arah mata angin hehehe. Pokoknya kita ambil arah kanan dari bascamp dengan jalan tanjakan pertama ber-aspal milik warga kempung tersebut. Tanjakan pertama langsung disambut dengan udara segar dan pemandangan bukit-bukit yang berjejeran sampe bingung sendiri sebenarnya yang mana yang hendak kita daki. Masih di jalur milik warga, berjalan di kisaran 500 meter dengan pohon-pohon rimbun  kemudian kembali ke jalan ber-aspal. Nah di jalan ini kita akan disuguhkan dengan pemandangan perbukitan menghampar luas. Jalan ber-aspal ini adalah salah satu jalur utama menuju tempat wisata yang sebenarnya belum begitu rame juga sih. Di jalur ini tanjakan dan tikungan tajam mulai menggerogoti tenaga kita sedikit demi sedikit tapi tetap jangan menyerah loh gasss terusss pepet sampe dapat sebelum disalip orang lain (ngomong opo sih).
Lelah berjalan selama hampir 3 Jam perjalanan, akan disuguhkan perbukitan yang agaknya disiapkan untuk kegiatan tempat wisata di daerah tersebut, di tempat tersebut terdapat beberapa tatanan bangunan yang mulai rapih dengan slogan utama “The Hidden Paradise Cikasur Savanna” kalau di Yogyakarta yah semacam Bukit Bintang begitu lah. Di tempat ini kita bisa beristirahat, sambil menikmati pemandangan yang cukup indah sambil ngopi-ngopi juga bisa kok karena ada beberapa warung yang disiapkan untuk pengunjung.

Selain pemandangan terhampar luas, kamu juga bisa narsis macam dia orang.

Selesai menikmati pemandangan kita berjalan lagi sampai jalan tak ber-aspal. Ini adalah titik awal dimana pendaki akan disuguhkan dengan jalanan berdebu dan track yang cukup sulit juga. Kepada calon pendaki baiknya menggunakan Masker bila memasuki track ini, karena kondisi jalanan yang berdebu dan tanah berlumpur. Jika dalam kondisi musim hujan, sepatu akan menjadi korban pertama di track semacam ini. Harap bersabar karena track ini cukup lumayan menguras tenaga, selain jalurnya curam juga  track yang naik terus tidak ada bonus sama sekali. Kerennya waktu yang harus ditempuh di track ini sekitar 3 Jam perjalanan sampe tiba di Pos Mata Air I.

Track Curam berdebu dan berbahaya. Lebih berbahaya dari kesendirian.

Dan alhamdulilah akhirnya kita sampai juga di Pos Mata Air I dengan selamat tepat pada pukul 15:00 WIB, dengan demikian tunai sudah perjalanan kita untuk hari pertama. Jadi untuk mencapai pos Mata Air I dari Bascamp Baderan, kita membutuhkan durasi waktu sekitar 8 Jam dengan rerata 16493 Langkah Kaki. Sekedar tambahan di Pos Mata Air I ini terdapat penampungan Air milik warga setempat yang bisa digunakan para pendaki untuk kebutuhan minum, jadi silahkan digunakan fasilitas tersebut karena itu dibolehkan oleh petugasnya dan bijak-bijak yah dalam menggunakannya jangan sampe pake mandi loh.
Bersambung-


amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar