Wisata Religi ala Pandeglang


Kalau anda berkunjung ke kota Kudus, Jawa Tengah tentu tidak asing dengan slogan “Kudus Kota Para Wali” berbeda dengan kota Wali, Pandeglang merupakan salah satu Kabupaten dengan slogan “Pandeglang Kota Seribu Santri dan Sejuta Kiyai”. Slogan yang sudah melekat dalam keseharian masyarakat Pandeglang, ternyata di daerah ini mudah ditemukan banyaknya Makam Para Syekhul Islam. Dalam tradisi masyarakat Pandeglang, sebutan Syekh adalah orang Suci atau para ulama terdahulu yang telah menyebarkan ajaran agama islam di daerah Pandeglang.
Panggilan ini meski secara umum sudah melekat dalam tradisi orang Nahdiyin, namum khususnya di Pandeglang, para Syekhul Islam tersebut turut berkontribusi besar dalam penyebaran agama islam. Mudah ditemukannya di setiap kampung beberapa makam keramat para Syekhul Islam juga memiliki keterkaitan satu sama lain dengan sejarah penyebaran agama islam di daerah Pandeglang, meskipun ini butuh penelitian lebih lanjut.
Beberapa nama tenar seperti Syekh Nawawi Al Bantani, Syekh Jamal Mengger, Syekh Mansour Cikaduen dan Syekh Asnawi Caringin. Adalah para penyebar islam dan ulama abad ke 19 yang hidupnya dihabiskan dalam perjuangan agama Islam. Hampir semua masyarakat Pandeglang mengetahui makam para Syekh tersebut. Syekh Mansour Cikaduen misalnya adalah penyebar agama islam yang konon bermukim di Makkah, Arab Saudi. Diceritakan menurut para sesepuh masyarakat setempat, bahwa datangnya Syekh Mansour dari Makkah lewat sumur Zam-zam yang kemudian muncul di daerah Cibulakan, daerah tersebut sekarang menjadi Situs Batu Qur’an. Makam Syekh Mansour di Kampung Cikaduen selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah khususnya di Bulan Maulid.
Sedangkan Syekh Asnawi adalah salah satu Murid Syekh Nawawi Al Bantani. Salah satu karomah yang dimiliki oleh Syekh Asnawi adalah, konon ketika Syekh Asnawi mendirikan bangunan masjid di Daerah Caringin, kayu yang digunakan untuk mendirikan bangunan tersebut didapatkan dari tengah laut yang dibawa oleh Ikan-ikan. Masjid tersebut sampai sekarang masih berdiri kokoh di daerah Caringin, makam Syekh Asnawi menjadi titik puncak para peziarah khususnya yang ziarah ke daerah Pandeglang.
Selain dua nama Syekhul Islam berpengaruh yang sudah saya sebutkan di atas tadi, beberapa kampung di Pandeglang memiliki para Ulama atau penyebar islam bertitel para Syekh. Makam Para penyebar islam tersebut dapat ditemukan di beberapa kampung lengkap dengan cerita dan karomah dari masing-masing tempat. Dengan demikian malam Jum’at bagi santri Kobong adalah malamnya para Santri. Karena banyaknya para Santri yang ziarah ke berbagai makam para Ulama di setiap pelosok kampung yang ada di daerah Pandeglang di malam hari untuk ngalap berkah.
Seperti di kampung Nembol, Kecamatan Mandalawangi. Di kampung tersebut terdapat beberapa Makam (Pusara) Para ulama yang konon berasal dari beberapa kawasan Timur Tengah termasuk salah satunya dari Iran. Para ulama tersebut adalah para pendiri Kampung Nembol, konon Nembol sendiri berasal dari kata Timbul atau muncul. Yaitu suatu daerah yang berada di kawasan kaki gunung Pulosari. Masyarakat Kampung setempat menyebut Pendiri Kampung Nembol tersebut sebagai Syekh Ki Tuan Zubed, seorang Ulama penyebar agama Islam yang datang dari Iran, tidak banyak yang bisa diceritakan tentang Kisah Syekh Ki Tuan Zubed. Karena tidak ada dokumen tertulis yang bisa dijadikan sebagai sumber utama. Namun demikian Kisah Syekh Ki Tuan Zubed dan Situs Keramat peninggalannya masih utuh dan dapat kita lihat di kampung Nembol.
Meski butuh penelitian lebih lanjut terkait peran dan kontribusi para Syekhul Islam di Kabupaten Pandeglang, namun melihat banyaknya situs Keramat dan Makam Para Syekhul Islam di Pandeglang sangat memungkinkan daerah ini menjadi salah satu wisata religi yang wajib dikunjungi di Daerah Banten Selatan.

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar