Membincang Jihad, Khilafah & Terorisme

Mendiskusikan buku ini tentunya harus secara telaten dan sabar, hal ini dikarenakan tema-tema yang dihadirkan oleh beberapa penulis sangat menarik dan layak diperbincangkan untuk kondisi saat ini. Seperti hal nya salah satu tulisan Airlangga Pribadi Kusman yang menjelaskan terorisme. Titik berangkat tulisan ini dimulai dari runtutan historis perang dingin dan warisan kuasa negara yang menyertainya. Airlangga berpendapat, penting untuk melihat tema terorisme dalam konteks ketika negara melakukan kekerasan khususnya dalam historiografi politik Indonesia. Mendiskusikan terorisme dalam masyarakat Indonesia hari ini, tentunya jika mengabaikan sejarah tentang (terorisme negara) atau teror yang dilakukan oleh negara maka peristiwa berdarah tahun 1965 akan luput dari perhatian kita.

Sehingga Airlangga menggarisbawahi bahwa praha pembantaian massif seputar 1965 tidak dapat diabaikan begitu saja dalam term terorisme hari ini. Hal ini berkaitan dengan definisi state terrorisme yang menjadi titik berangkat, dimana terorisme diartikan sebagai penggunaan kekerasan dan alat-alat kekerasan untuk menimbulkan efek rasa takut terhadap masyarakat demi terwujudnya tujuan politik tertentu. Airlangga berpendapat “dalam hubungannya dengan perjalanan sejarah kita, kekerasan struktural, sistemik, dan terpola yang dilakukan oleh negara semenjak 1965 telah menumbuh, dimana negara berulang-ulang mereplikasi kekerasan terhadap warga negara dengan pola-pola sejenis pada kasus-kasus lainnya”.

Seperti yang terjadi dalam Peristiwa Lampung, Tanjung Priok, teror dan penindasan di Aceh dan Papua atas nama kepentingan ekonomi, ekplorasi migas yang melayani TNC seperti Exxon dan Freeport dan penggusuran lahan-lahan pertanian dengan piranti kekerasan. Semua itu menjadi titik berangkat yang sangat menarik dari definisi state terrorisme yang dikemukakan oleh Airlangga Pribadi Kusman.

Pemahaman atas narasi terorisme akhir-akhir ini juga mengaburkan konteks politik dari warisan perang dingin. Padahal perjalanan historis dari perjalanan panjang radikalisme islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aksi-aksi teror sebagai instrumen utama di era perang dingin. Aksi-aksi kekerasan teror berpangkal kepada dua hal, pertama segelintir orang yang tidak puas dengan pemerintah dan juga munculnya trend jihad yang dimaknai secara salah kaprah. Munculnya segelintir orang yang tidak puas terhadap kinerja pemerintah akhirnya memunculkan angan-angan menghadirkan kehendak untuk membangun negara Leviathan. Yaitu sebuah konsep negara yang kuat dan tak terbagi. Sebuah upaya untuk mendirikan negara tak tertandingi yang dipimpin oleh institusi dimana kehendak rakyat diserahkan segenap kedaulatannya. Hanya saja bayangan negara kuat tersebut lahir melalui instrumen kekerasan sehingga penggunaan kekerasan dalam ruang-ruang publik menjadi hal yang dibolehkan. Kemunculan trend jihad dengan tafsir yang salah kaprah juga turut melanggengkan kewajaran kekerasan dalam ruang-ruang publik. Lahirnya radikalisme islam justru ditengah negara sedang membangun proses demokrasi. Hanya saja kelompok-kelompok anti pemerintah tersebut memaknai bahwasanya demokrasi yang sedang berlangsung tidak menghadirkan security regime juga tidak mampu mengakomodasi aspirasi politik mereka secara luas.

Menurut Airlangga, kenyataan historis tersebut memberikan gambaran bahwa tampilnya kelompok-kelompok radikalisme Islam era pasca-otoritarianisme memiliki hubungan geneologis dengan kelompok-kelompok radikalisme islam yang telah ada baik pada era Orde Lama maupun Orde Baru. Hal ini bukanlah suatu kebetulan belaka bahwa relasi antara kekuatan islam radikal dan negara dalam konteks Orde Baru dan kemunculannya pasca Orde Baru tidak steril dari pengaruh dan campur tangan negara. Artinya negara melalui fabrikasi rezim Orde Baru di bawah koordinasi Ali Moertopo mengendalikan kekuatan kelompok-kelompok islam radikal sebagai bagian dari kontrol rezim untuk dijadikan mesin teror dalam mengahadapi kekuatan oposisi, khususnya sisa-sisa kelompok kiri di Indonesia.

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar