Kisah Abuya KH, A. Tb. Ma'ani Rusjdi membebaskan Abuya Dimyati

Pada tahun 1960-an rombongan ulama dan umara diantaranya Letkol H. Ayip Rughby selaku mantan Menteri Kehutanan dan Prof. KH. Sazeli Hasan selaku Wakil Ketua MUI Banten bersama rombongan MUI Pandeglang bertolak dari Banten menuju Istana Presiden di Puncak Cipanas dalam rangka menghadiri wisuda Bung Karno meraih gelar Doktor bidang Ilmu Aqidah Islamiyyah. Bersamaan dengan itu KH. Tb. A. Ma’ani Rusjdi yang pada saat itu masih muda diajak dalam rombongan mewakili MUI Pandeglang. Sampai disana telah berkumpul para tokoh-tokoh nasional seperti Prof. DR. Hamka, ulama Sepuh KH. Tb Falak Pagentongan, KH. A. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syamsuri dan beberapa tokoh islam dari PERSIS Wasliah.
Ketika acara hendak dimulai Bung Karno memerintahkan lewat KH. Saifuddin Zuhri selaku Menteri Agama, bahwa yang harus membaca Qur’an harus bergelar “Tubagus” orang Banten. Terpilihlah pada waktu itu KH. Tb. Mansur Ma’mun sebagai Qari. Sedangkan untuk orasi ilmiahnya Bung Karno menginginkan tokoh muda, maka terpilihlah KH. Ma’ani. Karena pada waktu itu ia terbilang tokoh paling muda yang turut hadir.


Sebagai tokoh agama yang paling muda pada saat itu, KH. Ma’ani diminta untuk orasi ilmiah secara mendadak oleh Bung Karno rasanya sangat mustahil bahkan tanpa persiapaan apapun. Meski demikian KH. Tb. A. Ma’ani Rusjdi sebagai orang Banten, tentunya tidak ingin membuat kecewa para sesepuh ulama dari Banten yang hadir pada saat itu. Sehingga pada saat sebelum orasi ilmiah dimulai, KH. Ma’ani bertawasul kepada Kakek dan Ayahandanya dan berdoa “Ya, Allah jika pidato saya di istana ini hasilnya tidak memuaskan maka jeleklah orang Banten keseluruhannya. Jika baik Insya Allah Banten gudangnya ulama meningkat derajatnya” ternyata doanya dikabulkan oleh Allah, sampai-sampai ia orasi ilmiah 2 jam lamanya menyuarakan dinamika ilmu pengetahuan dan permasalahan umat islam. Setelah selesai orasi Ilmiah KH. Ma’ani disambut tepuk tangan hadirin dan dijemput Bung Karno untuk duduk bersamanya.
Selain kisah menarik diatas terdapat kisah lainnya dimana karomah KH. Ma’ani dalam urusan diplomasi tidak diragukan lagi kecakapannya. Sebagaimana diriwayatkan langsung dari buku 75 tahun Pengabdian KH. Tb. A. Ma’ani Rusjdi, bahwa ketika Abuya Dimyati dijemput polisi dari rumahnya untuk menjalani persidangan atas tuduhannya karena kritiknya terhadap pemerintah yang cenderung sekuler dalam menjalani kehidupan di dunia. Keesokan harinya yaitu hari Sabtu, turun putusan bahwa Abuya Dimyati divonis penjara delapan bulan. Keputusan tersebut tentunya hanya bisa diterima dengan lapang dada baik oleh Santri-santrinya maupun anak-anaknya seperti KH. Bahren, dan Tb. Anis sekalipun ia seorang politisi. 
Lima hari setelah penangkapan Abuya Dimyati, tepatnya pada hari Kamis ketika KH. Ma’ani sedang berbuka puasa, datang seorang tamu dari Pandeglang ke rumahnya di Kananga, Menes. Rupanya tamu tersebut adalah Muhtadi yaitu anak sulung dari Abuya Dimyati. Dengan rasa takzim dan penuh hormat, ia memohon bantuan agar mengusahakan supaya Abuya Dimyati bisa dikeluarkan dari penjara. Atas ijin Allah KH. Ma’ani menyanggupinya, sehingga keesokan harinya ia berangkat menuju Pandeglang dan bertemu dengan Bapak Ruslan selaku Kepala Penjaranya dan juga Abuya Dimyati. Dalam pertemuan tersebut ia berbicara kepada Abuya Dimyati, bahwa untuk bisa membebaskannya harus ada surat memo pejabat dari Jakarta. Karena menurutnya kepala penjara tidak punya wewenang untuk membebaskannya.
Seminggu setelah kunjungan pertamanya dengan Abuya Dimyati, anak sulungnya Abuya Dimyati datang lagi ke rumahnya hendak menanyakan perkembangan dari situasi yang terjadi. Kepada Muhtadi, ia menjelaskan kondisinya dan mohon mintakan doa kepada Abuya Dimyati bahwa ia hendak ke Jakarta “bedoa’lah dik, Insya Allah Kakan akan perjuangkan, mudah-mudahan seminggu setelah Kakak dari Jakarta Abuya Bebas”. Keesokan harinya KH. Ma’ani berangkat ke Jakarta hendak meminta memo dari pejabat di Jakarta untuk membebaskan Abuya Dimyati yang masih dalam penjara. Atas ijin Allah dan barokah doa dari kedua ulama tersebut, seminggu setelah KH. Ma’ani kembali dari Jakarta, Abuya Dimyati dibebaskan.

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar