Gus Dur dalam pengantar Konfusianisme di Indonesia

Gus Dur yang Universal
Siapa yang tidak kenal dengan sosok Almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur. Sosok inspiratif dan teladan dalam menghidupi wacana keberagaman di Indonesia. Gus Dur adalah bapak bagi anak-anak muda milenial yang pemikiran-pemikirannya sangat universal, maka wajar jika Gus Dur tidak hanya milik kalangan Nahdlatul Ulama (NU) sebuah organisasi besar yang melahirkannya. Tetapi ia juga bukan hanya milik sekelompok orang islam dimana ia dibesarkan dalam tradisi agama-nya sebagai orang muslim. 
Gus Dur adalah karya seni ciptaan Tuhan yang universal, karena ia bersifat universal maka Gus Dur milik semua kalangan. Pemikiran-pemikirannya diadopsi, dipraktek-kan dan didiskusikan dari forum sederhana setingkat warung kopi ala mak Ijah sampai forum Akademik bertaraf Internasional. Gus Dur adalah milik kita, dan kita adalah santri-santri Gus Dur yang datang dari latar belakang agama apa-pun.
Kedekatan Gus Dur dengan orang-orang dengan latar belakang agama yang berbeda menjadi contoh konkrit bagaimana ia mencoba membangun masyarakat tanpa sekat suku, etnis dan agama baik mayoritas dan minoritas. Gus Dur adalah sosok yang sangat konsen terhadap isu-isu minoritas, ia sendiri selalu menghindari istilah mayoritas  dan minoritas. Gus Dur lebih suka dengan relasi-relasi yang dibangun sebagai upaya untuk kesetaraan bersama, sebuah upaya untuk mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. 
Nilai-nilai kemanusiaan yang diperjuangkan Gus Dur menuntunnya kepada hal-hal yang dianggap kontroversial oleh sebagian orang. Pembelaannya terhadap Jemaah Ahmadiyah, minoritas Tionghoa, dan pemeluk Khonghucu yang pada Orde Baru tidak diakui negara adalah bentuk nyata dari pemikiran Gus Dur itu sendiri. Menurutnya, kemanusian harus diletakan paling depan dalam setiap urusan. Maka tak heran ia selalu melontarkan kritik-kritiknya terhadap pemerintah, khususnya pada masa Orde Baru yang dianggapnya tidak meng-akomodir golongan minoritas.


Gus Dur dan Khonghucu
Pada tahun 1995 ketika Orde Baru masih berkuasa, ia memberikan sebuah pengantar dalam salah satu buku yang diterbitkan oleh interfidei. Sebuah lembaga yang konsen dalam Dialog Antar Iman di Indonesia. Sebuah pengantar dengan tema “Konfusianisme di Indoensia” sebenarnya itu adalah kumpulan tulisan hasil seminar yang diselenggarakan pada tanggal 28 Mei 1994 di Yogyakarta, yang dihadiri oleh para ahli Khonghucu dan tentu saja dihadiri oleh para pemeluk agama Khonghucu.
Dalam pengantar tersebut Gus Dur memaparkan bagaimana hubungan antara Cina dan  Indonesia merupakan hubungan yang sangat menarik bila ditinjau dari perkembangan agama. Ia berpendapat bahwa kedatangan orang-orang Cina terjadi secara alami lewat para pengembara Cina yang sengaja datang ke Nusantara untuk mempelajari Agama Buddha di kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian perkembangan agama Khonghucu berkembang pesat, namun demikian tanpa disadari anggapan ini diterima begitu saja tanpa dikonfirmasi kebenarannya.
Kebenaran sejarah yang ia maksud yaitu salah satu rekontruksi sejarah yang bisa dijadikan acuan diantaranya keterkaitan Kelenteng Sam Po Kong sebagai tempat ibadah yang lebih mencerminkan masjid. Sejarah mencatat bahwa orang yang diagungkan terkait dengan keberadaan Klenteng Sam Po Kong tersebut adalah Ma Ceng Ho sebagai seorang Cina Muslim. Kehadiran Ma Ceng Ho di tengah-tengah komunitas Cina yang memeluk agama Khonghucu dengan anggapan bahwa kehadiran pemeluk agama Khonghucu pada waktu itu telah berkembang pesat menurut Gus Dur adalah penerimaan informasi sejarah Khonghucu yang kurang pas.
Gus Dur beranggapan bahwa andai saja kita terima rekontruksi sejarah yang ada, tentu akan memperlihatkan cerita berbeda dari yang diterima selama ini. Dimana sejarah mencatat bahwa Raden Patah sebagai Sultan Pertama Islam di Pulau Jawa pada dasarnya adalah seorang Majapahit yang berasal dari garwo selir yang dihadiahkan kepada Aryo Damar seorang Adipati Palembang. Belakangan diketahui bahwa garwo selir tersebut dikenal sebagai putri Campa keturunan Cina. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Sultan Demak adalah seorang Cina. Karena Campa dalam konteks ini diartikan sebagai komunitas Cina yang ada di Indocina.
Sehingga pada masa itu dapat ditarik benang merah bahwa penguasa Jawa yang menjadi Raja di penghujung kerajaan Majapahit adalah seorang Cina Muslim, ini dapat disejajarkan satu generasi dengan kehadiran Ma Ceng Ho. Dengan demikian Gus Dur meyakini bahwa jauh sebelum Ma Ceng Ho datang ke Nusantara, sebenarnya telah ada orang-orang Cina Muslim di pulau Jawa yang turut andil dalam penyebaran agama Islam bahkan menjadi penguasa di pulau Jawa.
Argumen ini ia bangun berdasarkan bukti temuan sejarah dengan dibukanya pemakaman Trolojo, sekitar 1,5 Km. dari Pendopo Agung Majapahit, sebuah daerah bernama Trowulan pada saat ini. Di pemakaman tersebut terdapat tiga buah makam yang saling berdekatan, yaitu makam Sayyid Usman Ngudung, Syekh Abdul Qadir As-Siny, dan Syekh Djumadi Kubro. Ketiga tokoh tersebut adalah para ulama yang gugur ketika melakukan gempuran terhadap Keraton Majapahit, yang kemudian dikuburkan di ibukota Kerajaan pusat kekuasaan Majapahit. Menutur keterangan, Syekh Abdur Qadir As-Siny adalah Abdur Qadir yang berjenis Cina. Dengan kata lain ia adalah seorang muslim yang merupakan Kakak atau saudara tua dari Raden Patah. Sehingga kejadian tersebut merupakan bukti sejarah yang cukup penting bagi hadir-nya komunitas Muslim Cina yang pada saat itu telah menetap di daerah pantai utara pulau Jawa sebelah timur. Dalam legenda rakyat setempat bernama Gelagah Wangi yang kemudian terkenal dengan sebutan Kerajaan Demak.
Menarik untuk dilihat, ternyata kehadiran komunitas Cina Muslim di pantai utara pulau Jawa ternyata hanya bersifat sementara, meskipun mereka berhasil menggulingkan Keraton atau Kerajaan Majapahit. Gus Dur melihat pemunahan komunitas Cina Muslim di Pulau Jawa dapat dilihat dari terjadinya Jawanisasi oleh Kesultanan Demak yang terjadi pada Raja ketiga yang memerintah di Pajang tepatnya bernama Sultan Trenggono yang kemudian digantikan oleh Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir yang beribukota di Pajang, sebuah ibukota yang ada di pedalaman Jawa. Pergeseran ibukota dari Pantai Utara menuju pedalaman Pajang, tentunya menunjukan satu gejala bahwa kehadiran Cina Muslim pada masa itu pada hakekatnya telah bergeser dan puncaknya ketika Sultan Hadiwijaya digantikan oleh Sutowijoyo sebagai Panembahan Senopati Ingalogo.
Gus Dur dan Jenis Baru etnis Cina di Indonesia
Proses Jawanisasi yang bergeser dari daerah pantai Utara menuju pedalaman Pulau Jawa ditandai dengan merosotnya komunitas Cina Muslim pada masa itu. Sehingga kekosongan orang-orang Cina dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah Kolonial Inggris dan Belanda dengan mendatangkan orang-orang Cina satu dua abad kemudian. Menurut Gus Dur “Komunitas-komunitas Cina yang didatangkan oleh pemerintah kolonial Inggris dan Belanda itu, terutama di daerah Kalimantan Barat, menghadirkan jenis baru dari kalangan etnis Cina yang merantau kemari, yaitu pengikut agama Khong Hu Cu”.
Kenyataan ini menurut Gus Dur, dapat disimpulkan bahwa penyebaran agama Khong Hu Cu di Indonesia baru berlangsung satu atau dua generasi setelah komunitas Cina Muslim di Nusantara punah. Namun demikian kajian mengenai perkembangan Agama Khong Hu Cu di Indonesia tentu saja tidak bisa lepas dari politik ekonomi pemerintah Kolonial Inggris dan Belanda. Maka wajar jika tidak terjadi hubungan geneologis antara komunitas Cina Muslim dengan Cina jenis baru yang didatangkan oleh pemerintah Kolonial Inggris dan Belanda. Kajian ini tentunya sangat bermanfaat dalam kerangka melihat pola perkembangan agama Khong Hu Cu yang mengalami keterputusan pada masa-masa selanjutnya khususnya pemeluk Agama Khong Hu Cu pada masa Orde Baru berkuasa.

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar