Catatan Akhir Tahun (Dari Lombok, Donggala-Palu Hingga Pandeglang-Banten)

Satu minggu menjelang perayaan Tahun Baru Masehi yang jatuh pada hari Selasa 1 Januari 2019, beberapa wilayah yang berada di Kabupaten Pandeglang-Serang dilanda bencana Tsunami. Bencana yang terjadi pada tanggal 22 Desember malam hari dan berlanjut hingga hari Minggu tanggal 23 Desember 2018 berdampak serius dengan banyaknya korban berjatuhan di area terdampak Tsunami. Beberapa kawasan tempat wisata yang terkena Tsunami diantaranya Pantai Anyar, Carita, Tanjung Lesung, dan Kec Sumur. Terjangan gelombang Tsunami yang menyapu daerah pantai Carita mengakibatkan hancurnya beberapa rumah semi permanent dan beberapa hotel rata dengan tanah yang terdapat di bibir pantai, disertai dengan banyaknya korban berjatuhan dimana-mana. Sedangkan kawasan Tanjung Lesung dan Kec Sumur mengalami kerusakan dan korban meninggal cukup banyak hanya saja korban belum teridentifikasi semuanya. Adapun untuk korban yang selamat banyak yang dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas di sekitaran daerah Pandeglang dan Serang.
Dua hari setelah Tsunami menerjang daerah Tanjung Lesung dan Kec Sumur, Abah dan tim dari Bogor berangkat menuju lokasi untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa pakaian dan makanan. Perlu diketahui bahwa untuk bisa sampai ke lokasi Kec Sumur, dibutuhkan waktu tempuh +4 Jam perjalanan dari Kabupaten Kota. Adapun rute yang harus dilalui diantaranya lewat jalan utama Pandeglang-Labuan, kemudian lanjut menuju arah Panimbang. Sesampainya di Panimbang silahkan ambil jalur kanan menuju arah Tanjung Lesung. Dari Tanjung Lesung dibutuhkan waktu tempuh 2 jam untuk sampai lokasi pengungsian di Kec Cimanggu. Menurut penuturan warga Kec Cimanggu, para korban Tsunami yang berasal dari Kec Sumur tersebar untuk mengungsi di tiga titik utama, diantaranya Kec Cimanggu, Tangkil, Kopi dan juga terdapat di Gunung Honje.
Adapun lokasi yang dijangkau Abah dan Tim adalah Desa Cimanggu, Kec Cimanggu. Di daerah tersebut telah berkumpul para pengungsi yang berasal dari beberapa Desa yang ada di Kec Sumur. Untuk sampai menuju lokasi Desa Cimanggu tidak mudah, karena kondisi jalan utama yang layak guna hanya sampai Kantor Kecamatan Cimanggu. Dan memang beberapa pengirim bantuan pun langsung menuju kantor kec Cimanggu, guna menghindari jalan yang rusak. Karena jalan utama menuju Kec Sumur setelah kantor kec Cimanggu kondisinya sangat rusak dan jalurnya sangat curam. Abah sih menyarankan untuk menyalurkan donasi bantuan sampai di kec Cimanggu saja, karena kondisi jalan yang sangat berbahaya untuk dilalui.
Alhamdulilah Abah dan Tim dari Bogor sampai juga di lokasi pengungsian tepat pada pukul 17:30 WIB dan disambut langsung oleh kepala Posko yaitu Ibu Imas, Kepala Desa dan Warga Desa Cimanggu yang menjadi relawan. Kondisi lokasi yang cukup jauh dari Kabupaten Kota nyatanya tidak mengendurkan semangat untuk saling membantu sesama. Terbukti sampai di lokasi pengungsian Abah bertemu dengan para penyalur donasi bantuan kemanusian dari berbagai wilayah seperti dari Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya dll. Kita berharap bantuan tersebut tepat sasaran dan bermanfaat untuk para korban Tsunami Selat Sunda, sehingga mereka yang terdampak korban Tsunami secepatnya pulih dan kembali beraktifitas seperti biasanya.
Sebagai catatan bahwa Tsunami yang terjadi di penghujung tahun 2018 merupakan serangkaian musibah yang telah terjadi sebelumnya di sepanjang tahun ini. Umum diketahui bersama, bahwa di tahun 2018 kita sebagai bangsa Indonesia cukup banyak kejadian alam yang kita hadapi bersama. Tsunami yang terjadi di Lombok beberapa bulan yang lalu menurut data statitistik menewaskan lebih dari 564 jiwa dan kerusakan secara materil cukup parah. Yang lebih mengagetkan belum pulih musibah di Lombok disusul dengan adanya Tsunami di Donggala Palu, kejadiannya lebih hebat dan dahsyat. BPBN mencatat bahwa kejadian yang meluluhlantahkan Donggala dan Palu menewaskan lebih dari 2.081 jiwa dan tak terhitung banyaknya kerusakan dimana-mana. Tentunya dua kejadian tersebut harusnya menyadarkan kita akan perlunya bersikap hati-hati karena daerah yang kita tinggali rawan dengan gejala alam yang datang secara tiba-tiba.
Baik Tsunami, gempa bumi dan letusan gunung merapi tentunya merupakan bagian dari kejadian alam yang wajar terjadi di negara kepulauan Indonesia. Secara umum pandangan tentang kejadian alam tersebut dimaknai dan ditafsirkan secara berbeda-beda. Dalam pandangan orang-orang beragama, kejadian ini merupakan musibah, ujian dan teguran dari Tuhan pemilik alam. Sedangkan ilmu pengetahuan memandang bahwa fenomena Tsunami, letusan gunung berapi dan erupsi anak Krakatau merupakan bagian dari konsekwensi dari demografi kepulauan nusantara sebagai negara dalam lingkaran cincin berapi. Kedua pandangan tersebut biasanya menyeruak ke permukaan seiring datangnya kejadian-kejadian serupa muncul, sehingga kita terkadang melupakan substansi dari permasalahan utama yang sedang dihadapi. Akibatnya terjadilah debat kusir yang berkepanjangan yang melahirkan beberapa narasi yang dibangun oleh kalangan agamawan yang anti pemerintah menyalahkan banyaknya kemaksiatan, kebobrokan moral, korupsi, dan banyaknya pemimpin yang tidak adil terhadap rakyatnya dijadikan landasan utama dalam memandang musibah yang sedang terjadi.

Minimnya Pengetahuan Sosiologi Bencana

Kuatnya pengaruh narasi ini mengaburkan beberapa fakta yang tentunya harus diselesaikan bersama secara bergotong-royong. Seperti penataan jarak hunian dari bibir pantai, penyediaan zona aman jika sewaktu-waktu air laut datang lagi, penyediaan alat alarm Tsunami dan tentunya ini yang lebih penting adalah sosialisasi kepada masyarakat tentang pengetahuan umum akan Tsunami dan bencana serupa Pengetahuan Bencana Alam. Abah rasa minimnya pemahaman kita terhadap bencana alam dan kurangnya sosialisasi dari pemerintah setempat turut memberi kontribusi terhadap banyaknya korban bencana yang berjatuhan. Harusnya ini menjadi tanggung jawab bersama, disamping itu perlunya ketegasan pemerintah dalam menerapkan aturan tentang batas zona aman terhadap bangunan-bangunan yang berada di area wisata pantai.
Hancurnya Villa Stephanie di kawasan Pantai Carita harusnya menjadi contoh yang nyata bahwa sudah seharunya pemerintah setempat menerapkan kebijakan tentang zona aman terhadap bangunan-bangunan yang berada di kawasan pantai. Dengan demikian korban bisa diminimalisir kalaupun ada kejadian serupa di kemudian hari. Bila batas zona aman ini bisa diterapkan terhadap bangunan-bangunan yang berada di kawasan wisata sepanjang bibir pantai Carita tentunya kejadian ini tidak akan menelan banyak korban. Rudi (nama disamarkan) salah satu pengunjung yang menginap di Villa Stephanie asal Jakarta yang menjadi korban keganasan gelombang Tsunami menuturkan, bahwa ia datang dari Jakarta karena memenuhi undangan dari tempatnya bekerja. Bahwa datangnya gelombang Tsunami tersebut sebelumnya tidak terjadi apa-apa, bahkan kondisi laut tenang, cuaca cerah karena sedang terjadi bulan purnama. Ia menginap dengan keluarganya di kamar yang berhadapan langsung ke bibir pantai, sehingga ketika gelombang Tsunami datang ia hanya dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Sedangkan Istrinya ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa adapun anaknya yang masih berumur lima bulan masih belum ditemukan.
Belajar dari kejadian yang menimpa Rudi (nama disamarkan) ada banyak hal yang harus diperbaiki secara bersama-sama, khususnya pengetahuan tentang bencana alam yang selalu datang kapan saja. Sosiologi bencana sudah sepatutnya diterapkan dan menjadi pengetahuan yang mendesak untuk kita bersama. Kenapa harus sosiologi bencana? Abah rasa salah satu anugrah utama bangsa kita adalah membentangnya kawasan Pantai dari Sabang sampai Merauke hanya saja anugrah tersebut tidak diimbangi dengan pengetahuan kita tentang gejala alam yang menyertainya. Akibatnya ketika bencana alam datang, kita dalam kondisi tidak siap sama sekali. Bahkan yang lebih mengenaskan musibah bencana dipolitisir menjadi santapan media-media oposisi anti pemerintah. Maka tidak mengherankan ketika beberapa musibah bencana terjadi, bermunculan pemberitaan miring tentang musibah tersebut sebagai azab Allah karena pemimpin yang korup, tidak adil kepada rakyat, kriminalisasi ulama dan lain sebagainya berhenti untuk menghakimi orang lain. Pemberitaan-pemberitaan semacam itu harus kita lawan karena hanya akan memperkeruh suasana di tengah-tengah orang yang sedang berduka.
Untuk itu dibutuhkan ilmu pengetahuan yang mampu menjembatani kedua pandangan tersebut agar bisa bersama-sama menyelesaikan problem yang selalu terjadi sewaktu-waktu. Ke depan diharapkan kita siap terhadap segala kemungkinan bencana alam yang akan terjadi. Dengan bekal pengetahuan akan adanya bencana alam, maka tidak menutup kemungkinan tidak akan ada lagi korban yang lebih besar. Karena segala kemungkinan itu bisa terjadi, maka manusia sepatutnya berusaha dan berikhtiar semoga Allah melindungi kita semuanya. Amin.
Selamat Tahun Baru 2019.

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar