Kemana simpatisan HTI berlabuh?

Beberapa bulan pasca dibubarkannya Hizbut Tahrir Indonesia, kira-kira berlabuh kemanakah simpatisan HTI tersebut berlabuh ? bukan rahasia umum lagi, HTI adalah organisasi keagamaan yang sangat berkembang pesat pasca Orde Baru runtuh. Tentunya dengan menimbang segala aset yang ada, dari mulai Sumber Daya Manusia (SDM) baik itu para Ulama, juga Asatidz & asatidzah, sampai dengan para Santri Hizbut Tahrir Indonesia, bahkan sampai aset yang berbentuk fisik seperti gedung-gedung milik organisasi tersebut dari tingkat pusat sampai cabang di berbagai daerah. Meskipun pemerintah telah sah membubarkan organisasi tersebut pada tanggal 07 Mei 2018, namun tidak menutup kemungkinan organisasi ini masih ada keberadaannya jika menimbang dari beberapa point di atas yang telah disinggung. HTI sebelumnya menggugat Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta atas putusan yang dikeluarkan oleh Pemerintah, namun PTUN menolak gugatan Hizbut Tahrir Indonesia karena menurut Majelis Hakim, gugatan tersebut ditolak berkaitan dengan adanya bukti-bukti bahwa HTI adalah organisasi yang bertentangan dengan Pancasila.


Tentunya putusan tersebut menjadi akhir cerita dari kisah HTI di Indonesia, sebagai organisasi keagamaan yang memiliki basis massa di perkotaan, HTI menjelma menjadi komunitas muslim militan yang berpandangan bahwa Khilafah adalah jalan menuju kemaslahatan dunia. Organisasi ini menyasar ke berbagai bidang, dari kegiatan ekonomi, politik sampai pendidikan. Isu Khilafah menjadi satu-satunya jualan HTI yang mendapatkan sorotan paling serius seiring perubahan peta politik di Indonesia selama kepemimpinan Partai berlambang Banteng. Sebenarnya organisasi ini belum saatnya menjual isu Khilafah dalam komoditas politik nasional, jika memang ingin lebih aman. Hanya saja para elit HTI sepertinya kebelet pipis, kurang itung-itungan, tidak belajar pengalaman dari para pendahulunya seperti Negara Islam Indonesia atau lebih dikenal DI/TII ala Kartosoewirjo pada masa Orde Lama. Maka disini pentingnya belajar sejarah, ingat pembaca sejarah yang baik tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, karena murid sejarah yang baik tidak akan mengulangi mencium tahi kucing untuk kedua kalinya. 
Sebenarnya apa yang dilakukan HTI selama ini sudah baik. Seperti dalam bidang pendidikan, organisasi ini menyasar ke berbagai institusi pendidikan baik jenjang tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sampai jenjang Perguruan Tinggi. Di SMA organisasi ini aktif dengan metode dakwah “door to door”, dimana setiap siswa dihantarkan ke majelis-majelis liqo untuk belajar tentang Islam menurut versi HTI. Menurut cerita kawan, terdapat jenjang-jenjang yang harus ditempuh untuk menyandang status ustad di kalangan organisasi tersebut. Sedangkan di tingkat Perguruan Tinggi, corak dan metodenya pun semakin luas dan berkembang, namun ciri khas yang paling utama tidak pernah ditinggalkan. Metode “door to door” adalah salah satu dakwah yang paling efektif selama ini, lewat metode ini para simpatisan HTI memperkenalkan organisasi mereka dengan pendekatan antar-personal.
Salah satu contoh yang paling menarik dari metode dakwah mereka adalah, dengan memperkenalkan ajaran islam secara inten kepada person-person. Dimana person diajak untuk mengenal islam dimulai dari mengaji Al-Qur’an di kelas-kelas. Hebatnya sang Ustad mengarahkan kajiannya dimulai dari ayat-ayat perang, dengan tafsir dan pemaknaan menurut islam HTI. Setelah mengaji selesai, sang Ustad akan menjelaskan ayat-ayat tersebut dan dikaitkan dengan kondisi politik Indonesia saat ini. Maka pada bagian ini sang Ustad akan mengarahkan kajiannya kepada isu-isu Demokrasi, Kapitalisme, dan Pancasila yang tidak ada rujukannya pada zaman Nabi. Menariknya proses ini dilakukan berulang-ulang sampai sang murid menjadi bagian dari HTI.
Maka, pasca pemerintah membubarkan kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia, kemana kah organisasi ini berlabuh, bagaimana dengan aset-aset mereka yang jumlahnya tidak sedikit? Karena tidak mudah bagi mereka untuk bubar begitu saja, sehingga untuk bisa menjawab beberapa pertanyaan di atas kiranya kita harus menunggu beberapa tahun lagi. Meskipun saya sendiri curiga, hilangnya mereka dalam riuh-nya politik nasional sekarang ini hanya sekedar untuk menyiapkan generasi militan yang lebih besar lagi, toh apa salahnya mundur beberapa langkah untuk bisa melangkah lebih jauh.

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar