Hizbut Takjil Indonesia

Menjalankan ibadah puasa bagi setiap muslim adalah suatu keharusan dan bagian dari perintah agama yang harus dilaksanakan. Sehingga datangnya ibadah puasa otomatis menjadikan seorang muslim dimanapun turut menyambutnya dengan suka cita. Berbeda dengan ibadah pada umumnya, ibadaha puasa hanya bisa dilaksanakan pada bulan yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasulnya dan ditinggalkan dengan ketentuan-ketentuan semisal sakit, atau melahirkan bagi perempuan dan selebihnya diharuskan untuk menggantinya di kemudian hari. Datangnya bulan Ramadhan menjadi berkah bagi semua kalangan, pun bagi mereka yang merantau jauh di negeri orang.



Di Yogyakarta datangnya bulan Ramadhan menjadi cerita yang menarik khususnya bagi kalangan mahasiswa yang jauh dari kampung halaman. Tulisan ini sendiri terinspirasi dari pengalaman hidup yang dialami oleh para mahasiswa perantauan di tanah Kraton Yogyakarta. Menjadi mahasiswa yang jauh dari kampung halamannya tentu, berbeda dengan kehidupan yang dijalani anak-anak pada umumnya yang selalu dekat dengan orang tua. Selain harus beradaptasi dengan lingkungan baru, para perantau pun dituntut untuk beradaptasi dengan budaya yang ada di Yogyakarta.
Datangnya bulan Ramadhan tak ayal membuat kehidupan mahasiswa yang ada di Yogyakarta khususnya menarik untuk disimak. Pada umumnya kehidupan mahasiswa perantauan bisa dikategorikan ke dalam beberapa golongan. Tidak semua golongan saya ketahui, namun sebagian mahasiswa menjalani kehidupannya sebagai Takmir Masjid, sebagai Guru TPA, bahkan tidak sedikit mahasiswa yang bekerja paruh waktu untuk bertahan hidup. Nah dengan datangnya bulan Ramadhan, setidaknya bagi mahasiswa kere macam saya ini menjadi berkah tersendiri.
Datangnya bulan Ramadhan dibarengi dengan munculnya gelombang Para Pencari Takjil, nah Ramadhan di Yogyakarta memang selalu memberikan kesan yang indah. Hampir di setiap masjid selalu menyediakan takjil dan buka bersama secara gratis. Bahkan untuk mengundang datangnya pengunjung ke masjid tersebut, para panitia berlomba-lomba menyediakan takjil yang menarik. Dari gudeg, ayam rica-rica, ikan balado, sate ayam, nasi kebuli bahkan beberapa menu khas nusantara di tampilkan lewat pamflet dan media sosial masjid tersebut.
Nah bagi kalian yang kebetulan mampir ke Yogyakarta pada bulan Ramadhan, sekali-kali intip masjid-masjid yang mengadakan takjil gratis. Masjid Jogokariyan, Masjid Kampus UGM, Masjid Kampus UIN, Masjid Balai Kota Yogyakarta, Masjid Gede Kauman Kraton dan Masjid Kota Gede adalah sederet nama-nama yang setiap harinya dipenuhi oleh gelombang para Hizbut Takjil Indonesia (HTI) begitulah mereka menamakan dirinya.
Di Masjid Jogokarian, panitia dalam setiap buka puasa bisa menyediakan seribu piring nasi dan dibagikan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang berbuka puasa di masjid tersebut. Tak hanya itu kegiatan lain yang bisa anda saksikan adalah “Kampoeng Ramdhan” konsep ini mulai banyak dicontoh di berbagai tempat. Sekedar informasi Kampoeng Ramadhan berisi tentang kegiatan Ramadhan selama satu bulan penuh, disitu anda bisa mengikuti bazar baju murah, buku murah, dan yang tak kalah penting adalah menu buka puasa dengan berbagai variasi pilihan lainnya.
Nah tentunya bagi mahasiswa beberapa menu pilihan buka puasa yang ada di masjid-masjid tersebut bisa menjadi alternatif dalam menghemat kantong mereka agar tidak jebol. Sehingga banyak dari mahasiswa, terutama mahasiswa yang baru pertama kali merasakan berpuasa di Yogyakarta mendadak menjadi HTI-HTI baru yang harus dididik lebih pintar lagi dalam memilih menu buka puasa secara gratis. Jadi selamat beribadah puasa, silahkan bergabung menjadi Hizbut Takjil Indonesia ala mahasiswa Yogyakarta dan jangan hanya menjadi Front Penunggu Imsak.

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar