Membaca Ulang Geger Pacinan 1740-1743.



Sebenarnya buku Geger Pecinan 1740-1743, Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC karya Daradjadi sudah lama saya baca. Namun karena kesibukan tugas paper yang tiada hentinya baru pada kesempatan kali ini saya bisa me-resume-nya. Istilah Geger Pecinan itu sendiri diambil dari kejadian peperangan yang dilakukan oleh laskar Tionghoa dalam melawan VOC. Geger Pecinan dikaitkan dengan kejadian yang terjadi pada tahun 1740-1743 sebagai bagian dari usaha masyarakat Tionghoa melawan VOC. Kekalahan dalam melawan VOC pada akhirnya menjadikan etnis Tionghoa harus hidup terpisah dengan orang Bumiputra, karena kekhawatiran VOC akan kekuatan Tionghoa yang bersatu padu dengan Bumiputra.











Secara garis besar buku ini mencoba menampilkan rangkaian peristiwa yang terjadi pada tahun 1740-an, sebagai usaha untuk merekonsiliasi sejarah yang telah lampau. Usaha ini sebagai bagian dari kampanye bahwa pada dasarnya etnis Tionghoa bagian dari sejarah bangsa Indonesia yang tidak bisa dilepaskan begitu saja perannya.

Dalam babakan sejarah Nusantara, etnis Tionghoa cukup berperan dalam kemajuan ekonomi pribumi. Bahkan ketika terjadi krisis pada tahun 1690-an orang-orang Tionghoa menjadi objek utama pemerasan yang dilakukan VOC pada waktu itu. Bahkan pada tahun 1738, Gubernur Jenderal VOC Adriaan Valckenier mulai menerapkan kebijakan yang sebelumnya tidak pernah terjadi yaitu dengan mengharuskan setiap orang Tionghoa memiliki permissie brief yang harus dibayar dua ringgit per kepala. Kebijakan ini sendiri lahir sebagai efek dari krisis ekonomi yang dialami oleh perusahaan dagang VOC yang pada waktu itu yang bersaing dengan perusahaan dagang Inggris. Sehingga kebijakan ini sendiri memberatkan orang-orang Tionghoa. Namun demikian kebijakan tersebut tidak menyurutkan mereka dalam melakukan perdagangan, ini terbukti dengan banyak dan masuknya imigran-imigran gelap Tionghoa yang bermukim di Batavia. Dengan banyaknya orang-orang Tionghoa yang datang dan bermukim di Batavia, menjadi salah satu alasan bagi VOC untuk mengkambing hitamkan etnis Tionghoa pada waktu itu. Terlebih memasuki tahun 1740, wabah penyakit melanda Batavia, bahkan sebagian dari orang-orang Tionghoa ditahan oleh VOC pada waktu itu.
Pada tahun-tahun awal 1740-an ditandai sebagai langkah awal dari bagaimana proses perlawanan etnis Tionghoa kepada VOC. Hal ini ditandai dengan adanya segerombolan orang-orang Tionghoa yang berkumpul lebih dari 1000 orang berkumpul di pabrik Gula Gandaria, yang pada waktu itu dipimpin oleh Kapitan Sepanjang. Dalam sejarahnya Kapiten Sepanjang adalah aktor utama dalam memimpin koalisi Tionghoa-Jawa dalam melawan Kompeni (VOC). Keberanian Kapitan Sepanjang dalam melakukan perlawanan terhadap Kompeni tidak bisa dilepaskan dari kekuatan utama orang-orang Tionghoa yang berkoalisi dengan Pribumi.
Proses rekam jejak perlawanan orang-orang Tionghoa dan Pribumi pada akhirnya bisa dipatahkan oleh Kompeni dan sekutunya. Dengan kekalahan yang dialami oleh Kapitan Sepanjang dan bala tentaranya menjadi babakan baru dalam sejarah keberadaan orang Tionghoa di Nusantara. pelbagai kebijakan yang diterapkan oleh Kompeni tidak lain sebagai usaha untuk memisahkan etnis Tionghoa dengan Pribumi agar tidak terulang kembali persekutuan antara Tionghoa dan Pribumi dalam melawan Kompeni.

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar