Studi Agama Perspektif Sosiologis

Pendahuluan
Secara umum sosiologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai aspek masyarakat dari mulai struktur, kelas, ideologi dan gejala-gejala dalam sebuah masyarakat. Dalam masyarakat yang beragam tentunya faktor sosiologis bisa menjadi salah satu acuan untuk melihat pelbagai fenomena sosial termasuk agama. Agama menjadi objek yang dikaji dalam pendekatan sosiologis hal ini didasarkan pada asumsi bahwa agama bukanlah gejala jauh atau ephipenomena menurut Peter L Berger.[1]
Beranjak dari asumsi utama bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat maka kajian ini akan melihat studi agama melalui pendekatan sosiologis yang tentunya hal ini bisa dibedakan dengan pendekatan studi agama pada umumnya. Secara sederhana pendekatan sosiologis sebagai pijakan dasar dalam melihat suatu realitas masyarakat, sehingga perlu kiranya menggaris bawahi bahwa pendekatan sosiologis adalah suatu cabang pengetahuan yang dibedakan dari sosiologi pada umumnya.[2] Hal ini disandarkan pada agama sebagai objek kajian dalam melihat realitas dalam sebuah masyarakat.
Dengan demikian sosiologi pun tentunya menjadi salah satu model dalam mendekati agama sebagai ranah kajian ilmu. Dalam pendekatan sosiologis objek-objek, praktik-praktik ritual, pengetahuan keagamaan, adalah sebuah bentuk hasil interaksi yang di kontruksi manusia. Beragamnya bidang kajian agama dewasa ini dan berbagai fenomena kemasyarakatan, tentunya akan terasa sulit dijelaskan tanpa bantuan ilmu sosial. Hal ini lah yang kemudian menjadikan sosiologi sebagai alat dan tolak ukur dalam melihat masyarakat agama.[3]
Latar belakang paper ini disusun sebagai bahan diskusi pada kelas Studi Agama Islam. Pemaparan meliputi tema-tema diantaranya tentang pengertian sosiologis, pendekatan sosiologi agama dan karakteristik dasar pendekatan sosiologis, studi awal tentang agama yang menggunakan pendekatan sosiologis, dan relevansinya terhadap studi agama islam yang menggunakan pendekatan sosiologis.
Disiplin ilmu sosiologi tidak serta merta hadir begitu saja dalam perjalanan kehidupan umat manusia. Namun secara historis kehadiran ilmu sosiologi muncul pada abad 19 sekitar pertengahan tahun 1800-an. Secara garis besar ilmu ini hadir sebagai respon dari revolusi industri pada tahun-tahun tersebut sehingga pelbagai persoalan menyangkut umat manusia membutuhkan sebuah jawaban yang dikenal dengan Metode Ilmiah.[4] Hal ini yang kemudian memberikan sebuah jawaban terhadap persoalan kemanusiaan pada masa itu yang kemudian memunculkan disiplin ilmu sosiologi.
Sosiologi secara etimologi, berasal dari bahasa latin yang terdiri dari akar kata “socius” dan “logos” dimana socius bermakna teman sedangkan logos bermakna berbicara. Sederhananya sosiologi adalah disiplin ilmu yang membicarakan manusia dan masyarakat. Sedangkan secara terminologi, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses pembentukan dalam masyarakat itu sendiri.
A. Sejarah Awal Sosiologi
Untuk melihat gambaran secara menyeluruh perlu kiranya disini untuk melihat sejarah awal dari kelahiran dan perkembangan ilmu tentang sosiologi itu sendiri. Alasan utama untuk melihat pembentukan sosiologi awal sebagai bahan dari materi dalam makalah ini agar menjadi pijakan dalam melihat pendekatan studi agama yang menggunakan pendekatan sosiologis. Karena para sosiolog pada umumnya melihat praktik-praktik keagamaan dalam sebuah masyarakat selalu dihubungkan dengan struktur, ideologi, kelas dan berbagai gejala dimana masyarakat tersebut dibentuk.
Dalam sosiologi awal, ada dua tema penting yang ditawarkan oleh Durkhaim yaitu bagaimana keutamaan sosial dari individu dan kedua adanya suatu keharusan untuk mempelajari masyarakat secara ilmiah.[5] Meskipun perkembangan awal lahirnya sosiologi disandarkan kepada tokoh Auguste Comte (1798-1857) akan tetapi peran Durkhaim lah yang kemudian menjadikan sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu akademis. Secara tradisi intelektual Durkhaim adalah seorang ilmuwan yang mewarisi tradisi pencerahan, yaitu suatu penekanan pada ilmu pengetahuan dan reformisme sosial. Ada dua tema yang ditawarkan oleh Durkhaim yaitu mengenai Fakta Sosial dan Agama yang akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.
a.       Munculnya Revolusi Industri
Pada dasarnya perkembangan atau lahirnya sosiologi bisa dilihat dalam abad 19 dan awal abad 20. Dimana kondisi tersebut  sebagai awal dari perkembangan sosiologi. Pada tahun 1789 di peranci terjadi revolusi politik, revolusi ini pun berlangsung sampai abad 19. Implikasi yang ditimbulkan dari revolusi politik sangatlah berpengaruh dalam pembentukan teorisasi sosiologi. Karena dari revolusi politik menghasilkan dua perubahan dalam sebuah masyarakat ke arah positif dan negative.[6]
Namun demikian yang menjadi perhatian para teoritisasi awal sosiolog bukanlah efek positif yang ditimbulkan dari revolusi tersebut, melainkan efek negatif dimana munculnya kekacauan dan gangguan dalam masyarakat menjadi perhatian utama para teoritisasi sosiolog seperti Comte, Durkhaim dan Parsons. Isu mengembalikan tatanan sosial menjadi salah satu perhatian utama para sosiologi awal, zaman ini dinamakan sebagai masa Romantisisme dimana semua orang berharap kembali ke zaman pertengahan yang relative damai dan teratur. Perhatian paling menonjol dalam hal ini adalah lahirnya revolusi industry yang berlangsung pada abad 19 dan abad 20. Ciri utama dari revolusi industry adalah adanya transformasi masyarakat dari sistem pertanian menuju sistem industry besar-besaran di Dunia Barat pada waktu itu.
b.      Sosiologi sebagai respon masyarakat industrial
Revolusi industri sebagai sebuah wajah baru tentunya dalam konteks sosial menghasilkan sebuah masyarakat yang individualistik, maka respon yang terjadi terhadap pelbagai jenis perubahan yang dihasilkan masyarakat eropa pada waktu itu menggiring kita pada pembahasan tentang respon dari masyarakat yang tadinya petani dan beralih fungsi menjadi buruh-buruh di pabrik kota. Dalam konteks ini menurut Durhkaim ada empat respon yang diterima oleh masyarakat pada waktu itu;
Pertama, hilangnya tradisi lama atau tradisionalitas yang dibangun berdasarkan nilai-nilai kekeluargaan dan pudarnya nilai-nilai agama yang kemudian digantikan dengan motif modernitas yang bersandarkan kekuasaan sebagai jalan utama.
Kedua, bergantinya pola pikir tata perilaku dan norma-norma keagamaan yang dibangun oleh gereja yang sebelum revolusi sangat sacral bergantikan dengan usaha-usaha lebih kepada penekanan rasionalitas sebagai upaya memenuhi hasrat hidup di dunia bahagia.
Ketiga, masyarakat yang tadinya berpegang teguh pada satu pusat kekuasaan tertentu terpecah belah dengan adanya kesadaran diri masing-masing sehingga secara politis kebebasan berpendapat menjadi tuntutan masing-masing individu sehingga ini memberi dampak terputusnya tradisi lama yang dibangun dengan kesadaran moral bersama yang beralih kepada kekuasaan Negara.
Keempat, kebebasan individu memaksa diri melepaskan semua tradisi lama pada akhirnya menjadikan seseorang berharap lebih besar pada dirinya sendiri walaupun resiko kegagalan selalu menghantui dalam setiap tindakan individu tersebut.[7]
Dengan empat respon yang terjadi dalam masyarakat tersebut, Durkhaim sadar bahwa hanya dengan menggunakan pengamatan sosiologis lah yang bisa memecahkan masalah masyarakat. Sehingga penyelidikan ilmiah terhadap masyarakat perlu dikedepankan. Hal tersebut mendorong Durkhaim untuk mengamati sebuah masyarakat berdasarkan dua prinsip utama, yaitu bahwa manusia memiliki sifat-sifat alamiah yang bisa dikaji secara objektif, kedua menjadikan serangkaian kejadian masyarakat sebagai bagian dari fakta sosial yang perlu diinvestigasi dengan menggunakan pendekatan metode ilmiah dalam sebuah ilmu pengetahuan. 
c.       Definisi Sosiologi
Diperlukannya sebuah definisi sebagai upaya untuk menghindarkan kekaburan dalam pembahasan materi pada konteks makalah ini. Sehingga perlu kiranya kami memberikan sebuah pendefinisian secara tegas agar materi ini bisa dicerna secara lebih ajeg dan tersistematis.
a)      Sosiologi Umum
Definisi Sosiologi secara lebih luas adalah ilmu tentang masyarakat dan berbagai fenomena masyarakat serta gejala yang merubah masyarakat itu sendiri.[8] Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gejala-gejala sosial, institusi-institusi sosial adalah bagian dari objek kajian ilmu sosiologi. Sedangkan ditinjau secara lebih sempit sosiologi adalah ilmu tentang perilaku sosial baik ditinjau secara individual maupun secara sosial yang memberikan dampak terhadap perubahan suatu masyarakat.
b)      Sosiologi Agama
Sedangkan dalam Sosiologi agama pendefinisian diberikan sebagai pembeda dengan definisi sosiologi pada umumnya meskipun menurut Berger memberikan sebuah definisi adalah soal selera.[9] Maka disini kami tegaskan bahwa sosiologi agama adalah sebuah cabang ilmu pengetahuan yang berasal dari sosiologi umum hanya saja fokus dan objek kajiannya saja yang berbeda. Sebagai penguat perlu kami cantumkan definisi yang diberikan oleh Goddijn bahwa yang dikutip oleh Hendropuspito,
“Sosiologi agama ialah bagian dari sosiologi umum (versi barat) yang mempelajari suatu ilmu budaya empiris, profan dan positif yang menuju kepada pengetahuan umum, yang jernih dan pasti dari struktur, fungsi-fungsi dan perubahan-perubahan kelompok keagamaan dan gejala-gejala kelompok keagamaan.”[10]
Sementara Michael S. Northcott berpendapat bahwa fokus pendekatan sosiologi dalam hal ini sosiologi agama adalah berdasarkan pada interaksi antara agama dan masyarakat. Maka agama dan masyarakat menjadi pembahasan bersama yang disajikan dalam konteks sosiologi agama.
B. Periodesasi Perkembangan Sosiologi Agama
Secara pemetaan awal lahirnya ilmu sosial tidak lepas dari gejala masyarakat pada masa dimana ilmu itu lahir. Lahirnya ilmu sosiologi di Barat di prakarsai oleh Auguste Comte, meskipun dalam konteks sejarah tidak bisa menafikan ada ilmuwan-ilmuwan lebih awal dari Comte itu sendiri semisal Ibnu Khaldun dalam dunia Islam. Namun demikian perlu kami sajikan rentetan pembentukan sosiologi agama sebagai bahan dari diskusi dalam paper ini.
a.       Sosiologi Klasik
Dalam sejarah awal ilmu sosial periode klasik adalah gambaran dimana tokoh-tokoh awal dari ilmu sosiologi mengupayakan sebuah ilmu yang dinamakannya ilmu sosiologi. Secara periodik tokoh-tokoh utama seperti Emile Durkheim (1858-1917) dan Max Weber (1864-1920) sosiolog asal Prancis dan Jerman inilah yang dipandang sebagai bapak pendiri ilmu Sosiologi Agama. Meskipun beberapa karyanya tidak selalu berbicara dalam konteks sosiologi agama.[11]Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dua tokoh ini yang kemudian dijadikan sebagai tokoh sentral dalam berdirinya ilmu sosiologi, terlebih ketika berbicara mengenai ilmu sosiologi agama. Secara singkat jawaban sederhananya adalah meskipun pada saat itu telah ada penelitian-penelitian mengenai agama semisal ilmuwan-ilmuwan yang menelitit agama Edward B. Tylor (1832-1917), Herbert Spencer (1820-1903), Friedrich H. Muller (1823-1970) dan Sir James G. Fraser (1854-1941) secara keilmuaan mereka berbicara dalam studi tentang agama-agama primitive. Sedangkan Durkhaim dan Weber memulainya dengan studi agama yang dilihat sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri.
b.      Sosiologi Gereja
Dalam perkembangan selanjutnya, sosiologi bergerak ke arah yang lebih dinamis. Kejadian perang dunia ke II tentunya membawa perubahan dan pola pikir beberapa kalangan termasuk di dalamnya para ilmuan sosial. Beberapa kalangan ilmuan sosial ternyata pasca perang dunia ke II lebih tertarik terhadap kehidupan agama di dalam gereja. Hal ini dilandasi kepada kejadian masyarakat Barat pasca peperangan yang tentunya pemulihan masyarakat oleh para ahli ilmu sosial dilihat dari dalam gereja, maka lahirlah sosiologi gereja. Adapun tokoh yang patut diperkenalkan disini adalah Gabriel Le Bras seorang perintis Sosiologi Agama dalam artian sosiologi Gereja, ia menerbitkan sebuah buku sosiografi pada tahun 1931 sebagai bagian dari usahanya untuk mengembangkan sosiologi agama (sosiologi gereja)
c.       Sosiologi Pastoral
Ketika pergeseran studi ke wilayah gereja, ternyata ini memberi dampak yang signifikan dalam melihat agama dalam ruang lingkup gereja yang kemudian dibutuhkan sebuah upaya untuk melihat bagaimana tokoh-tokoh gerejawan hidup dan menghidupkan masyarakat berdasarkan agama, maka disini dibutuhkan sebuah pendektan baru dalam melihat pastor-pastor di dalam kehidupan gereja tersebut latar belakang ini lah yang kemudian melahirkan ilmu sosiologi pastoral. Perkembangan dari sosiologi gereja dan pastoral adalah kebutuhan studi tentang masyarakat yang menggunakan agama sebagai objek kajiannya. Dalam perkembangan selanjutnya sosiologi agama yang bercorak gerejani, memisahkan diri dengan sosiologi umum yang kemudian dikenal sekarang dengan nama sosiologi Agama.
d.      Periode Kebangkitan 1970-an
Pada periode terakhir khususnya setelah sosiologi gereja memisahkan diri dengan sosiologi umum maka kajian tentang ilmu sosial itu sendiri mengalami kemunduran khususnya pada tahun-tahun terakhir sebelum tahun 1970an. Periode tersebut bisa dikatakan tidak terjadi perubahan yang berarti apapun terkait sosiologi gereja dan sosiologi pastoral. Sehingga bisa dikatakan bahwa pada tahun-tahun tersebut ilmu ini tidak berjalan dengan baik.
Alasan utama dari kemunduran ilmu sosiologi gereja dan pastoral umumnya disebabkan beberapa hal diantaranya;
1.      Tidak adanya suatu hubungan yang harmonis antara sosiolog dan pimpinan gereja sehingga umumnya para tokoh gereja tidak merasakan hasil dari studi tersebut. Sehingga hal ini menyebabkan dukungan dari pihak gereja terhadap para ahli sosiolog gereja semakin melemah.
2.      Selain kurangnya dukungan dari pimpinan gereja, kritik yang tajam datang umumnya dari kalangan ahli sosiologi umum dimana mereka berpendapat bahwa hasil penelitian para ahli sosiologi gereja dinilainya kurang ilmiah dan berbobot.
Faktor tersebut kemudian menjadikan ilmu sosiologi gereja mengalami kemuduran. Sehingga berbagai kritik tersebut mengarah kepada satu kesimpulan bahwa seharusnya penelitian tentang sosiologi tidak hanya ditunjukan kepada kehidupan gerejani semata, karena itu upaya untuk memperluas kajian tentang sosiologi adalah suatu keharusan.
Dorongan untuk melihat kembali relevansi penerapan sosiologi gereja dalam masa-masa sekarang perlu dipertanyakan. Sehingga pada tahun 1970an muncul sebuah upaya untuk mengembalikan kembali sosiologi gereja dalam wilayah sosiologi umum. Dengan kembalinya sosiologi gereja dalam cakupan sosiologi umum maka objek kajian sosiologi gereja berubah menjadi sosiologi agama yang wilayah pengertiannya diperluas tidak hanya milik kalangan gerejani.[12]
Secara garis besar pada tahun 1970-an upaya untuk memperlebar jangkauan dan perbaikan terhadap sosiologi gereja cukup berani langkah ini diambil sebagai upaya untuk melihat bagaimana sosiologi tersebut tidak hanya milik kalangan gerejani semata. Sehingga sasaran, Metodologi dan problematikanya mengalami perbaikan secara keseluruhan.
Diantara perbaikan tersebut munculnya keinginan untuk memberikan arti yang lebih luas terhadap pemaknaan agama itu sendiri sehingga nantinya apakah agama adalah sebuah institusi semacam gereja atau agama hanya sebagai kepercayaan iman semata. Selain masalah pemaknaan terhadap agama problematika lain adalah upaya untuk melihat motodologi baru dalam penelitian agama. Hal ini dimaksudkan agar dalam menjawab problem teoritis tentang agama bisa dimaknai secara lebih luas.
C. Karakteristik Pendekatan Sosiologi Agama
Umumnya para ahli sosiologi agama membedakan antara pendekatan sosiologi umum dan sosiologi agama, hal ini berdasarkan kepada objek kajian masyarakat yang melibatkan agama sebagai dasar dari pendekatan tersebut. Sehingga untuk melihat watak agama dan relasi antara agama dan masyarakat kalangan sosiolog menetapkan serangkaian ketegori-kategori sosiologis sebagai konsekwensi terhadap pendekatan sosiologi agama,[13] kategori tersebut meliputi:
o   Stratifikasi Sosial, seperti kelas dan etnisitas
o   Kategori biososial, seperti seks, gender, perkawinan, keluarga masa kanak-kanak, dan usia.
o   Pola organisasi sosial meliputi politik, produksi ekonomis, sistem-sistem pertukaran, dan birokrasi.
o   Proses sosial, seperti formasi batas, relasi intergroup, interaksi personal, penyimpangan dan globalisasi.
Proses pengkategorian tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk melihat paradigma yang ada dalam tradisi sosiologi, pada akhirnya ini menentukan arah berbagai pendekatan dalam studi agama dalam perspektif sosiologis. Seperti akan kami paparkan paradigma tersebut mengantarkan paper ini kepada diskusi tentang perlunya sebuah pendekatan dalam studi agama.
a.       Pendekatan Institusional
Dalam melihat suatu gejala di masyarakat pendekatan ini lebih mengedepankan berbagai fenomena tersebut dilihat dalam institusi agamanya. Secara sederhana pendekatan ini lebih melihat bahwa struktur dalam sebuah institusi keagamaan dapat menjelaskan berbagai fenomena masyarakat. Beberapa tokoh yang melihat gejala masyarakat dilihat lewat institusi agama adalah Max Weber, Karl Marx, Sigmund Freud, dan Nietzche.[14]
b.      Pendekatan Fungsional
Dalam melihat agama sebagai fungsi, sosiolog asal Amerika tidak bisa dilepaskan begitu saja perannya dalam pembahasan ini. Adalah Talcot Parsons yang pertama-tama mengembangkan ide yang dibawa oleh Durkhaim tentang masyarakat sebagai sistem sosial. Jika Durkhaim mengatakan bahwa dalam sebuah masyarakat terdapat kesadaran kolektif yang menyatukan pertalian antara individu satu dengan yang lainnya yang disebut solidaritas, maka Parsons melihat terdapat fungsi-fungsi yang turut berperan didalamnya. Hal ini kemudian dilihat oleh Bryan Wilson, bahwa ada dua fungsi utama dalam melihat agama, pertama fungsi manifest dan kedua fungsi laten agama.
Fungsi manifest agama ditunjukan oleh Wilson dalam melihat bahwa manifestasi sebuah agama yaitu berfungsi untuk “memberikan penyelamatan bagi laki-laki dan perempuan, dan khususnya penyelamatan identitas personal atau jiwa yang melampaui kematian biologis.” Identifikasi ini dilihat oleh Wilson melalui ritual-ritual keagamaan sebagai prasyarat utama untuk sebuah keselamatan. Sedangkan fungsi laten agama adalah suatu gerakan masa yang memunculkan tingkat kepedulian terhadap ritual-ritual keagamaan dalam ruang publik sebagai upaya untuk mengajak masyarakat dalam berbagai proses keagamaan.
c.       Pendekatan Konflik
Dalam melihat realitas sebuah masyarakat para sosiolog tentunya tidak bisa menafikan bahwa pendekatan konflik adalah suatu cara dalam mendekati sebuah masyarakat. Ide dasar dalam pendekatan konflik sebenarnya tidak bisa lepas begitu saja dari perjuangan kelas yang dibangun oleh Karl Marx. Secara sederhana teori konflik berasumsi bahwa dalam suatu masyarakat yang majemuk tentunya dari berbagai kelompok mempunyai kepentingan tersendiri, sehingga hasrat kepentingan tersebut dicurahkan dengan rasa ingin mewujudkannya dalam sebuah persaingan yang tidak sehat. Sehingga hal demikian selalu bermuara kepada konflik antara satu dengan yang lainnya.
d.      Pendekatan Interaksionisme Simbolik
Interaksionisme simbolis diwujudkan dalam sebuah masyarakat sebagai bentuk usaha untuk mendekatkan diri kepada manifestasi yang trensenden. Simbol bisa diwujudkan baik melalui bahasa verbal maupun isyarat, budaya, seni dan lain-lain. Ciri lain dari masyarakat simbolik adalah adanya suatu anggapan dan pemaknaan yang sama terhadap apa yang dijadikan simbol tersebut. Sehingga antar individu dengan individu lainnya terbentuk melalui seperangkat simbol-simbol tertentu, termasuk didalamnya cara-cara keberagamaan seseorang tidak lepas dari proses simbolis tersebut.
D. Agama Sebagai Objek Kajian Sosiolog
Munculnya masyarakat industrial sebagai respon dari revolusi industri tentunya memberikan dampak terhadap kehidupan keberagamaan. Hal tersebut tentunya menimbulkan permasalahan baru dalam lingkungan masyarakat, seperti telah dijelaskan diatas bahwa revolusi industri menjadi bagian penting dari lahirnya ilmu sosiologi. Salah satunya melatarbelakangi untuk meneliti masyarakat secara ilmiah. Sehingga paper ini akan menampilkan tokoh utama sosiolog dalam kaitannya dengan sosiologi agama.
a.       Emile Durkhaim
Sebagai tokoh sentral dalam sosiologi Durkhaim menawarkan dua tema utama dalam melihat masyarakat yang pertama, Fakta Sosial adalah konsep yang dikembangkan oleh Durkhaim tentang sebuah masyarakat. Menurut Durhkaim tugas dari seorang Sosiolog adalah mengkaji apa  yang dinamakannya fakta sosial.[15] Hal ini tentunya disandarkan kepada keutamaan sosial dari individu, karena fakta sosial bisa memberikan tekanan dan daya paksa terhadap individu. Realitas sosial tentunya memberikan sebuah respon terhadap individu sehingga menimbulkan sebuah perubahan pada masyarakat itu sendiri.
Durkhaim membedakan dua jenis fakta sosial antara lain material dan non-material. Namun demikian fokus utama Durkhaim lebih kepada fakta sosial non-material semisal kebudayaan dan institusi sosial ketimbang fakta sosial material semisal birokrasi dan hukum. Tentunya dilihat oleh Durkhaim ketika sebuah masyarakat primitif disatukan oleh fakta sosial non material yang disebutnya moralitas yang dipegang bersama-sama sebagai kesadaran kolektif. Namun munculnya masyarakat modern memberikan dampak terhadap kesadaran kolektif tersebut yang pada akhirnya memperrumit suatu masyarakat yang tidak mungkin dipersatukan kembali oleh sebuah moralitas yang bisa dipegang bersama lagi. Sehingga Durkhaim beranggapan bahwa diperlukannya sebuah revolusi untuk menyatukan kembali sebuah masyarakat dalam term yang sama lewat kesadaran kolektif tersebut.[16]
Yang kedua, agama dilihat oleh Durkhaim sebagai sumber kekuatan untuk menyatukan masyarakat karena bagi Durkhaim bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri. Dalam karyanya yang terkait dengan agama The Elementary Form of Religious Life, Durkhaim melihat bahwa masyarakat primitif yang bersandarkan kepada beberapa benda yang di tuhankan tentunya menjadikan Durkhaim semakin yakin bahwa fakta sosial non-material tersebut menjadikan kesadaran kolektif sebagai bagian upaya untuk menjaga tatanan dalam sebuah masyarakat. Singkatnya bagi Durhkaim masyarakat dan agama adalah satu kesatuan yang di dalamnya ada nilai-nilai ketuhanan yang dinamakannya kesadaran kolektif. Ide ini kesadaran kolektif nantinya akan diteruskan oleh generasi selanjutnya lewat Agama Sipil yang dikembangkan oleh Robet N Bellah.[17]
b.      Marx Weber
Tokoh penting lain dalam melihat pendekatan sosiologis dalam studi agama adalah Max Weber (1864-1918) seorang sosiolog berkebangsaan Jerman yang dibesarkan dalam tradisi pencerahan. Weber adalah orang yang menaruh perhatian pada masalah gagasan-gagasan terlebih gagasan keagamaan yang dipandangnya memberikan dampak terhadap perkembangan awal kapitalisme Eropa Barat. Sistem ide keagamaan dilihat oleh Weber dalam karyanya the Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Selain itu weber adalah sosiolog pertama yang mendisiplinkan ilmu sosiologi agama sebagai sub-disiplin ilmu.[18]
Dalam disiplin ilmu sosiologi weber memulainya dengan teori rasionalisasi yang melihat fenomena-fenomena seperti agama, hukum, kota bahkan musik sebagai bagian dari produk rasional. Dalam kaitannya dengan tema pada paper ini kami sengaja menyajikan Weber sebagai acuan utama terlebih pendekatannya terhadap agama dimulainya dengan melihat rasionalisasi institusi ekonomi dan hubungannya dengan agama dan kebangkitan semangat kapitalisme.[19]
Dalam buku yang diterjemahkan “Etika Prostestan dan Spirit Kapitalisme” sebenarnya weber sedang berbicara etika protestan yang berkaitan dengan ajaran Calvinisme.[20] Hal ini wajar saja karena semangat dan ajaran dalam etika protestan dibangun berdasarkan interpretasi kitab suci lewat seruan panggilan Tuhan. Lantas apa yang membedakan antara kapitalisme awal yang dibangun berdasarkan nilai-nilai ajaran agama dengan apa yang dinamakan Weber era pra-kapitalistik. Seperti yang dijelaskan oleh Weber sendiri bahwa pada dasarnya kapitalisme sudah ada sejak dulu, bahkan kapitalisme sudah ada di Cina, India, Babilon bahkan pada era yang sudah berkembang pun yaitu pada abad-abad pertengahan, namun demikian perkembangan tersebut masih disebut era kapitalisme tradisional.
“Mungkin akan terlihat bahwa perkembangan semangat kapitalisme paling baik dipahami sebagai bagian dari perkembangan rasionalisasi secara keseluruhan, dan dapat diambil kesimpulan dari posisi fundamental dari rasionalisme pada masalah paling mendasar dari kehidupan. Pada prosesnya, protestanisme harus dipahami sejauh protestanisme telah membentuk suatu tingkat yang lebih mendahului perkembangan filsafat nasionalistis murni.”[21]
Singkatnya semangat kapitalisme yang dilihat oleh Weber berdasarkan sifat manusia yang dipenuhi oleh hasrat untuk mendapatkan uang sebagai tujuan utama hidupnya. Namun pemaknaan ini akan sangat keliru jika tidak melihat motif utama yang melatarbelakangi pembedaan dari kapitalisme era modern. Jika dalam kapitalisme tradisional bentuk perdagangan dan perkembangan ekonomi terbangun dalam sistem keuangan yang berdasarkan kebutuhan sehari-hari, maka dalam era kapitalisme modern hasrat untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya menjadi tujuan utama sebagai bagian dari interpretasi alkitab.
Weber melihat kewajiban moral setiap individu yaitu dengan memenuhi urusan duniawi yang diaplikasikan dalam kehidupan relijius sehari-hari sebagai bentuk usaha tertinggi dari makna Calling. Calling atau biasa dimaknai sebagai panggilan adalah doktrin tentang orang yang terpilih dan yang kedua doktrin tentang kerja yang baik. Tesis ini dilihat oleh weber sebagai doktrin calvinisme yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kapitalisme selanjutnya.
E. Sosiologi Islam sebuah Pembahasan
Sosiologi islam, meskipun secara teoritis kami belum bisa membedakan antara sosiologi umum dengan sosiologi agama hanya saja secara aplikatif kami mengedepankan sumber yang ditulis oleh sosiolog-sosiolog muslim khususnya dalam melihat masyarakat agama islam. Menurut Atho Mudzhar ada lima gejala agama yang perlu diperhatikan dalam sebuah masyarakat agama diantaranya pertama, ini berkaitan dengan scripture hal-hal yang berhubungan dengan naskah-naksah atau sumber ajaran yang itu dianggap suci oleh pemeluk agama. Kedua, berhubungan dengan penganut atau pemimpin agama. Ketiga, ritus-ritus yang berkaitan dengan kegiatan ritual suatu agama, institusi-institusi keagamaan, dan kegiatan peribadatan. Keempat, simbol perkumpulan suatu masyarakat seperti masjid, gereja, vihara. Kelima, organisasi-organisasi kelembagaan setiap agama dalam suatu masyarakat agama seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama dan lain sebagainya.[22]
Beberapa gejala tadi menurut ahli studi agama bisa dijelaskan untuk melihat berbagai problem keagamaan masyarakat dalam studi agama. Pendekatan studi agama islam bisa didekati dengan menggunakan ilmu sosiologi agama karena, masih menurut Mudzhar ilmu sosiologi adalah ilmu yang mempelajari sebuah agama yang mempengaruhi sebuah masyarakat dan hubungannya dengan struktur-struktur yang dibangun di dalamnya.
a.       Pertautan antara Islam dan Weber
Penafsiran Weber tentang islam, Feodalisme ‘prebendal’ dan birokrasi patrimonial ciri khas Abbasiah, Mamluk dan Usmaniah. Dengan adanya ini kapitalisme rasional tidak akan pernah tercipta-etika islam berdiri sendiri lepas dari analisanya mengenai struktur sosio ekonomis masyarakat islam.
Weber mengaggap agama sebagai faktor yang menentukan struktur negara-negara Islam.[23] Pada titik sentral pandangan Weber tentang masyarakat islam tersimpul suatu perbedaan pokok antara sifat rasional dan sistematis masyarakat Barat, khususnya di bidang hukum, ilmu pengetahuan dan industri dengan kondisi politik dan ekonomi kebudayaan-kebudayaan timur yang labil, khususnya tamadun islam. Sedangkan kondisi masyarakat timur secara politis dan ekonomis bersifat bandel terhadap prasarana kapitalis.
Dalam studinya tentang psikologi sosial agama-agama besar, Weber menyatakan, bahwa:
“bukan angan-angan, tetapi kepentingan-keppentingan material dan ideallah yang mengarahkan perilaku seseorang. Namun sering sekali dunia bayangan yang diciptakan oleh angan-angan sudah menentukan arah seperti juru wisel kereta-api, tindakan mana terdorong oleh kepentingan dinamis.”[24]
Menurut Weber pandangan dunia  yang berpengaruh pada aksi sudah terbentuk dengan sendirinya oleh kepentingan-kepentingan straktum sosial yang telah menjadi pendukung historisnya. Oleh karena itu Weber berpendapat bahwa untuk menyatakan aksi haruslah dipahami pengertiannya dan motif subyektif aksi sosial, akan tetapi bahasa yang tersedia untuk menguraikan dan menerangkan aksi tersebut dengan sendirinya ditentukan pula oleh kondisi-kondisi sosial dan ekonomi. Dalam kasus islam setiap sikap; hedonisme, fatalisme (takdir) dan nilai-nilai khusus shari’at tidak sejalan dengan kapitalisme tetapi untuk mengerti sikap tersebut harus ditelusuri keadaan sosial negara-negara islam (Birokrasi patrimonial) dan kepentingan para prajurit arab (pendukung sosial). Weber menganalisa islam, ia memusatkan pada politik, militer dan ekonomi masyarakat sebagai bentuk dominasi patrimonial.
Pemahaman Weber tentang islam dalam sosiologinya dibagi menjadi dua[25]
1.      Mengenai isi etika islam, Weber menekankan dua hal: meskipun islam muncul di Mekah sebagai agama monoteisme dibawah kendali Muhammad, namun islam tidak berkembang menjadi agama asketik, karena pelaku sosialnya prajurit. Isi dan amanat saleh ini diubah menjadi serangkaian nilai-nilai yang cocok dengan kebutuhan-kebutuhan duniawi lapisan prajurit. Untuk keselamatan islam telah diubah menjadi pencarian tanah yang bersifat duniawi, islam lebih banyak menjadi sebuah agama akomodasi dari pada transformasi.
       Amanat monoteisme Mekah telah dipalsukan sufisme yg memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional. Prajurit menarik ke etika, sufisme kesebuah agama atau mistis. Islam tidak mengandung etika yang kongruen-dengan kebangkitan kapitalisme rasional.
2.      sosiologi Weber berpusat pada struktur politis dan ekonomis dinasti-dinasti islam (birokrasi patrimonial). Struktur keuangan dan politisi dinasti tergantung dari penakluk tanah. Struktur politik bergantung pada keseimbangan kompleks kekuatan sosial sultan, angkatan bersenjata, ulama, dan masa. Ini permainan kursi politik.

b.      Studi Agama Islam dalam pendekatan Sosiologis
Setelah menjabarkan bagaimana peranan sosiologi sebagai sebuah ilmu pengetahun yang berfungsi untuk melihat realitas masyarakat agama maka perlu kiranya melihat secara aplikatif pendekatan sosiologi agama diterapkan dalam studi agama islam. Disini kami mengambil contoh yang diteliti oleh Atho Mudzhar lewat penelitian dengan tema “Masjid dan Bakul Keramat: Konflik dan Integrasi dalam Masyarakat Bugis Amparita”[26] singkatnya penelitian yang dilakukan oleh Atho Mudzhar kami melihatnya sebagai bagian dari penelitian yang menggunakan sosiologi agama. Hal ini ditandai dengan karakteristik dasar dari pendekatan sosiologi agama itu sendiri yang mana penelitian ini dilakukan terhadap tiga kelompok keagamaan diantaranya kelompok orang-orang muslim, orang-orang Towano Tolitang dan orang-orang Tolitang Benteng di Desa Amparita, Sulawesi Selatan. Secara keseluruhan masyarakat di Desa Amparita dibangun lewat interaksi sehari-hari yang terkadang interaksi itu dibangun melalui konflik, kerjasama bahkan integrasi.
ketiga kelompok keagamaan tersebut ketika dihadapkan dalam sebuah konflik dalam penelitian tersebut ditemukan sebuah fakta bahwa berbagai konflik yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di desa Amparita bermula dari soal keagamaan. Sedangkan dalam soal kerjasama dan integrasi masyarakat Desa Amparita dibangun berdasarkan kepemilikan bersama terhadap warisan kebudayaan yang ada, dan hal-hal lain semisal kekerabatan, pertanian dan pendidikan.
c.       Ali Syariati sebuah Potret Sosiolog Islam
Berbicara tentang sosiologi islam, tentunya pemikiran Ali Syariati, muslim kelahiran Iran bisa menjadi pembahasan dalam materi ini. Sistem Masyarakat dan munculnya komunitas dijelaskan oleh Ali Syariati dengan merujuk pada peristwa Qabil dan Habil, yaitu sebab munculnya konflik (pembunuhan) yang disebabkan oleh persaingan dan lahirnya sebuah kekuatan. Menurut Ali Syariati, inilah awal sejarah sosial manusia, ia menggambarkan Qabil sebagai simbol negatif dan Habil sebagai simbol positif. Dalam kaitannya dengan kekuasaan, Qabil adalah penguasa raja, pemilik, sedangkan Habil adalah yang dikuasai. Kematian Habil adalah objektif, yaitu agama, kehidupan, pemerintahan, ekonomi, dan nasib manusia ada karena bermula dari kasus ini. karena itu, peristiwa ini sebagai contoh universal kehidupan manusia.
Terjadinya konflik antara Qabil dan Habil bermula dari perintah Adam untuk mengawini secara silang pasangan kembar perempuan mereka. Qabil tidak menyetujuinya dan mencoba merebut pasangannya dengan cara membunuh Habil. Dari kasus ini, Ali Syariati melihat bahwa dalam sosiologi terdapat dialektika[27] yang bisa diambil contoh yakni, baik dan buruk, positif dan negatif.
Menurut Ali Syariati struktur sosial tidak terbentuk oleh borguise, perbudakan, feodalisme atau kapitalisme, semuanya hanya bagian dari struktur masyarakat. Struktur masyarakat terbentuk oleh baik dan buruk. Dapat dicontohkan dalam kisah AlQuran tentang  Karun dan Firaun adalah representasi Qabil. Firaun misalnya disimbolkan sebagai kekuatan politik yang berkkuasa sedangkan Karun simbol penguasa harta. Keduanya ada pada contoh Qabil. Dalam AlQuran tiga manifestasi ini ditunjukan sebagai mala’, mutraf, dan rahib, yaitu sikap keras/brutal, berlebihan, dan keagamaan. Ketiga hal itu secara terus menerus terlibat untuk mendominasi, mengeksploitasi dan menipu manusia.[28]
Sedangkan pada kasus Habil, dapat dicontohkan pada hubungan “sejajar” Allah dan manusia (al-nas), ini bukan berarti sama tapi lebih menunjuk  bahwa kata Allah dan al-nas digunakan silih berganti.  Seperti Qs. 64:17 “Jika kamu meminjamkan kebaikan pada Allah, maka akan diganti dengan yang lebih baik”. Pinjaman di sini bukan berarti Tuhan butuh pinjaman, tetapi ada perhatian baik pada manusia yang digambarkan seolah-olah sejajar dengan manusia. Kata al-nas itu berarti manusia keseluruhan adalah perwakilan Tuhan dan keluarganya.
Secara garis besar  paper ini hanya menjelaskan studi agama islam dalam konteks sosiologis, tentunya pendekatan studi agama islam dalam konteks sosologis bisa dibedakan dengan pendekatan pada umumnya. Namun demikian persoalan bagaimana relevansinya studi agama dalam menggunakan pendekatan sosiologis, menurut hemat kami bahwa sangat relevan sekali dalam melihat studi agama islam yang menggunakan pendekatan sosiologi. Pun demikian melihat studi agama islam melalui pendekatan sosiologi sangat memperkaya wacana studi keislamanan itu sendiri seperti yang telah dipaparkan pada paper diatas. Dalam berbagai studi keislaman lewat beberapa tokoh yang telah kami sajikan.



Daftar Pustaka
Abdullah, Syamsudin Agama dan Masyarakat Pendekatan Sosiologi Agama (Pamulang Timur, Ciputat, Logos Wacana Ilmu, 1997)
Bellah, Robert N. Agama dan Legitimasi Republik Amerika, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003)
Berger, Peter L. Langit Suci, Agama sebagai Realitas Sosial, terj  Hartono (Jakarta: LP3ES, 1991)
Durkhaim, Emile “Dasar-dasar Sosial Agama” dalam Roland Robertson (ed.) Agama dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis terj Achmad Fedyani Saifuddin (Jakarta: Rajawali, 1988)
George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi dari Teori Sosoilogi klasik sampai perkembangan mutakhir teori sosial post modern terj Nurhadi (Yoygakarta: Kreasi Wacana, 2008)
Hendropuspito, Sosiologi Agama (Yogyakarta, Kanisius, 1983)
Henslin, James M. Sosiologi dengan pendekatan membumi terj Kamanto Sunarto (Jakarta: Erlangga, 2006)
Mitchell, Duncan. Sosiologi Suatu Analisa Sistem Sosial, terj Sahat Simahora (Jakarta: Bina Aksara, 1984)
Mudzhar, M. Atho. Pendekatan Studi Agama Islam Dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)
Nata Abuddin, Metodologi Studi Islam (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002)
Northcott, Michael S. “Pendekatan Sosiologis” dalam Peter Connoly (ed.) Aneka Pendekatan Studi Agama terj Imam Khoiri (Yogyakarta: Lkis, 2011)
Pals, Daniel L. Seven Theories of Religion terj Inyiak Ridwan Muzir (Yogyakarta: IRCiSoD, 2012)
Razak, Yusron dkk, Sosiologi Sebuah Pengantar: Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam(Jakarta: Laboraturium Sosiologi Agama, 2010)
Syariati, Ali. Sosiologi Islam, Padangan Dunia Islam dalam Kajian Sosiologi untuk Gerakan Sosial Baru (Yogyakarta: Rausyanfikr Institute, 2011)
Soehadha, Moh. Metodologi Penelitian Sosiologi Agama Kualitatif (Yogyakarta: Teras, 2008)
Turner, Bryan S. Sosiologi Islam, Suatu Telaah Analitis atas Tesa Sosiologi Weber, (Jakarta: Rajawali, 1974)
Weber, Max. Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme terj TW Utomo dan Yusup Priya Sudiarja, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006)


[1] Moh. Soehadha, Metodologi Penelitian Sosiologi Agama Kualitatif (Yogyakarta: Teras, 2008), hlm, 1.
[2] Michael S. Northcott, “Pendekatan Sosiologis” dalam Peter Connoly (ed.) Aneka Pendekatan Studi Agama terj Imam Khoiri (Yogyakarta: Lkis, 2011), hlm, 271.
[3]Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002), hlm, 39.
[4] James M. Henslin, Sosiologi dengan pendekatan membumi terj Kamanto Sunarto (Jakarta: Erlangga, 2006), hlm, 5.
[5]George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi dari Teori Sosoilogi klasik sampai perkembangan mutakhir teori sosial post modern terj Nurhadi (Yoygakarta: Kreasi Wacana, 2008), hlm, 80.
[6] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi dari Teori Sosoilogi klasik sampai perkembangan mutakhir teori sosial post modern terj nurhadi, hlm, 7.
[7]Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion terj Inyiak Ridwan Muzir (Yogyakarta: IRCiSoD, 2012), hlm, 136.
[8]Syamsudin Abdullah, Agama dan Masyarakat Pendekatan Sosiologi Agama (Pamulang Timur, Ciputat, Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm, 13.
[9] Peter L Berger, Langit Suci, Agama sebagai Realitas Sosial, terj  Hartono (Jakarta: LP3ES, 1991), hlm, 207.
[10] Hendropuspito, Sosiologi Agama (Yogyakarta, Kanisius, 1983), hlm, 7.
[11] Hendropuspito, Sosiologi Agama, hlm, 14.
[12] Perdebatan mengenai masalah sosiologi agama bisa dilihat dalam beberapa karya Peter L Berger sebagai tokoh utama dalam membawa isu ini dalam kalangan sosiolog Amerika pada waktu itu.
[13]Michael S. Northcott, “Pendekatan Sosiologis” dalam Peter Connoly (ed.) Aneka Pendekatan Studi Agama terj Imam Khoiri, hlm, 283.
[14] Syamsudin Abdullah, Agama dan Masyarakat Pendekatan Sosiologi Agama, hlm, 19.
[15] Duncan Mitchell, Sosiologi Suatu Analisa Sistem Sosial, terj Sahat Simahora (Jakarta: Bina Aksara, 1984), hlm, 30.
[16] Emile Durkhaim “Dasar-dasar Sosial Agama” dalam Roland Robertson (ed.) Agama dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis terj Achmad Fedyani Saifuddin (Jakarta: Rajawali, 1988), hlm 35-52.
[17] Lihat di Robert N. Bellah, Agama dan Legitimasi Republik Amerika, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), hlm, 23.
[18] Karyanya The Sociologi of Religion adalah karya awal yang berbicara tentang masyarakat agama meskipun dalam karya sebelumnya Sosiologi Weber berbicara tentang sosiologi agama.
[19] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi dari Teori Sosoilogi klasik sampai perkembangan mutakhir teori sosial post modern, terj Nurhadi, hlm, 29.
[20] Max Weber, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme terj TW Utomo dan Yusup Priya Sudiarja, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm, 74.
[21] Max Weber, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme terj TW Utomo dan Yusup Priya Sudiarja, hlm, 57.
[22] M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Agama Islam Dalam Teori dan Praktek,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm, 14.
[23] Bryan S. Tuner, Sosiologi Islam, Suatu Telaah Analitis atas Tesa Sosiologi Weber,(Jakarta: Rajawali, 1974), hlm, 14.
[24] Bryan S. Tuner, Sosiologi Islam, Suatu Telaah Analitis atas Tesa Sosiologi Weber, hlm, 26.
[25] Bryan S. Tuner, Sosiologi Islam, Suatu Telaah Analitis atas Tesa Sosiologi Weber, hlm, 329-331.
[26] Lihat M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Agama Islam Dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), mengenai pembahasan Masjid dan Bakul Kramat : Konflik dan Integrasi dalam Masyarakat Bugis Amparita, hlm, 127-241.
[27] Ali Syariati, Sosiologi Islam, Padangan Dunia Islam dalam Kajian Sosiologi untuk Gerakan Sosial Baru (Yogyakarta: Rausyanfikr Institute, 2011), hlm, 163.
[28] Yusron Razak, dkk, Sosiologi Sebuah Pengantar: Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam (Jakarta: Laboraturium Sosiologi Agama, 2010), hlm, 317.

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar