Agama Sipil Sebuah Perkenalan Awal

Sebagai bahan pembuka dalam perkenalan kita kali ini, penulis mencoba menawarkan tema Agama Sipil yang pada tahun 1970an sangat luar biasa dan mengalami perdebatan yang sangat pelik hingga saat ini. Istilah ini pertama kali dipublikasikan kepada publik pada tahun 1967 oleh Robet N. Bellah. Sehingga pada kesempatan kali ini penulis mencoba memberikan gambaran, agar pemahaman kita terhadap istilah dan konsep agama sipil tersebut lebih selaras. Dengan demikian mampu memberikan suatu gambaran yang menyeluruh tentang agama sipil seperti yang diharapkan oleh Bellah. Harapannya tulisan ini bisa memunculkan sebuah analisis akhir paling tidak, baik itu penerimaan konsep Bellah tentang Agama Sipil, maupun penolakan terhadap istilah tersebut.
Menurut Bellah sendiri istilah agama sipil ketika ia mempublikasikannya pada tahun 1967 istilah ini memunculkan penolakan yang sangat keras, walaupun disisi lain ada juga yang mengakuinya.[1] Namun demikian pengakuan terhadap istilah agama sipil pun beragam diantaranya berkata “sesuatu hal itu memang ada, tetapi tidak seharusnya ada. Sedangkan yang lain berkata “sesuatu hal yang saya maksud itu ada tetapi hal tersebut seharusnya disebut dengan nama lain, “kesalehan publik” misalnya, dari pada agama sipil. Memang Bellah sendiri sempat mengalami kerancuan dalam pemakaian istilah agama sipil. Karena istilah ini secara garis besar bisa ditelusuri sampai kepada Rousseau.
Dalam konteks ini sebenarnya Bellah berusaha untuk menampilkan persoalan keagamaan dan bentuk relasi kekuasaan dalam satu wacana secara bersamaan, dimana agama dan politik tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Namun demikian relasi antara agama dan kekuasaan pada dasarnya selalu mengambil jarak satu sama lain. Negara yang dimaknai oleh Bellah sebagai arena kekuasaan masyarakat untuk sebuah tujuan pragmatis, sedangkan agama mengklaim diri sebagai kekuasaan yang melebihi batasan-batasan yang ada dalam Negara itu sendiri. Artinya, agama adalah sumber yang menentukan kekuasaan Negara baik secara hidup maupun mati.
Baiklah sebelum berbicara lebih jauh tentang konsep Agama Sipil yang digunakan oleh Bellah, penulis ingin sedikit memberikan gambaran tentang agama sipil dan istilahnya secara sederhana agar kita tidak terjebak dalam pandangan-pandangan yang keliru.
Agama Sipil, Istilah dan Konsep.
Untuk mengawali tulisan ini sebenarnya teramat bingung bagi penulis sendiri khususnya ketika berbicara tentang istilah agama sipil. Namun demikian penulis ingin memulainya dengan pernyataan Bellah sendiri tentang Agama Sipil itu sendiri.
“Pokok permasalahan yang ingin saya kemukakan adalah bahwa kebingungan tentang agama sipil berakar dari sebuah kebingungan tentang asal-muasal Republik Amerika dan tidak bisa tidak, untuk mengklarifikasi hakikat agama sipil Amerika yang akan berimbas pada persoalan pembentukan kembali Republik Amerika.”
            Menurut hemat penulis penggunaan istilah agama sipil, Bellah memulainya dengan latar belakang dari Republik Amerika dan hubungannya dengan kondisi keagamaan masyarakat Kristen disana. Sebenarnya Bellah sendiri mengakui bahwa istilah-istilah “Agama Politik (political religion), “Agama Republic” (religion of the republic) atau “Kesalehan Publik” (public piety) tidak akan mampu mewakili istilah agama sipil dalam sejarah perjalanan Republik Amerika yang dia gambarkan.
Lantas dari manakah ide agama sipil itu sendiri Bellah hasilkan, jika yang menjadi patokan adalah sejarah perjalanan Republik Amerika. Rousseau adalah tokoh yang selalu dikaitkan dengan tema agama sipil yang dibawa oleh Bellah. Mungkin secara keseluruhan Roussea telah berjasa memberikan gambaran tentang Agama Sipil bagi Bellah. Menurut Roussea, ada tiga jenis agama yang jelek dalam sebuah masyarakat.
1. The Religion Man (yaitu agama yang tidak peduli terhadap sesama manusia) sebenarnya Bellah sedang membicarakan agama Kristiani pada umumnya di Amerika. Sejenis agama yang hanya membicarakan kesalehan individual.
2. Agama Masyarakat (sejenis agama Theokrasi) mencoba untuk menjadikan agama sebagai masyarakat tertentu.
3.  Agama Membingungkan !!!(dimana dalam sebuah masyarakat ada dua undang-udang yang harus ditaati oleh masyarakat 1, undang-undang Negara. 2, undang-undang Agama. Menurut Roussea ini anomaly membingungkan, bagi dia ini tidak memungkinkan.
Tiga fenomena kehidupan beragama inilah yang kemudian memunculkan gagasan Tentang Agama sipil, yang kemudian ini dijadikan sebagai teks pertama tentang konsep agama sipil. Namun demikian dalam pandangan Tedi Kholiludin,[2] Rousseau hanya meletakan fondasi utama dalam pembahasan ini, karena term ini berada dalam wilayah Filsafat Politik. Sedangkan Bellah mencoba mengelaborasi ide Rousseau dan Durkhaim secara berbarengan.
Durkhaim mengajarkan kepada kita bahwa agama adalah kesadaran kolektif. Ide ini kemudian dielaborasi oleh Bellah, bahwa dalam masyarakat yang terintegrasi ada kualitas keagamaan yang muncul. Sehingga bila dilihat secara seksama, Bellah mencoba merespon hal ini dalam kaitannya dengan kemunculan sekularisme. Dimana dalam sekularisme ada 4 respon yang dijelaskan oleh penafsir Bellah selanjutnya yaitu Lester Geertz:
1.      Gerakan Anti Modern
2.      Gerakan Teologi Pembebasan
3.      Fenomena Kuasi Agama (Seperti Agama)
4.      Fenomena Sinkretisme Agama
Fenomena kuasi agama ini lah yang kemudian dielaborasi oleh Bellah sebagai agama sipil yang secara teoritis merujuk kepada ide Rousseau dan Durkhaim. Menurut Bellah fenomena yang disebut agama sipil dibedakan menjadi dua. 1, dibedakan dari Negara. 2, independent dari Negara/Gereja. Hal ini dikarenakan masyarakat disebut agama sipil karena memiliki kualitas keagamaan yang terekpresikan melalui keyakinan, symbol, dan ritual.
Tiga ekpresi keagamaan seperti keyakinan, symbol, dan ritual itulah Bellah memulainya dengan menelaah pidato-pidato Presiden Amerika. Dimana ketika Kenedy menyebut kataTuhan 3 kali dalam pidatonya itu, akan tetapi Kenedy tidak menyebut kata Tuhan tersebut tidak secara spesifik ditunjukan kepada satu agama tertentu. Semisal Tuhan Agama Kristen kah, Islam kah, atau Yahudi Kah menurut Bellah inilah yang dinamakan Agama Sipil dalam konteks simbolnya. Sehingga dari sini penulis beranggapan bahwa Bellah sebenarnya sedang mendefinisikan agama sipil sebagai dimensi keagamaan publik. Dalam hal ini melalui seperangkat keyakinan, symbol, dan ritual, yang kalau dilihat secara seksama ini jelas Durkhaimian.
Secara konstruktif Bellah sedang berbincang hangat dengan memadukan Rousseau dan Durkhaim dalam bingkai yang bersamaan lewat telaah kritis agama sipil dari studi kasus Negara Amerika Serikat. Dimana dimensi keagamaan publik sebagai fenomena keagamaan yang terjadi di Amerika sebagai contoh utamanya dan sangat wajar ketika Bellah dengan bangga menyatakan bahwa sebenarnya masyarakat Amerika pun sangat Religius dan beragama. WaAllahualam




[1] Lihat di Robert N. Bellah, Agama dan Legitimasi Republik Amerika, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), hlm, 23.
[2] Penulis Disertasi tentang Agama Sipil, aktifis ELSAM Semarang.

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar