Mengenal Masjid & Gereja


Manusia adalah sekumpulan individu yang terbentuk dalam lingkungan yang serba komplek. Sebagai bagian dari komunitas yang dibentuk dalam lingkungan serba komplek tersebut tentunya rasa saling menghormati menjadi bagian yang sangat penting. Terlebih jika fondasi utama dalam lingkungan masyarakat tersebut dibentuk dalam balutan atas nama agama. Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berbagai kejadian yang berbalut atas nama agama.[1]
Rentetan kejadian tersebut menjadi pemicu hubungan yang tidak harmonis baik sesama pemeluk agama maupun antar pemeluk umat beragama. Dalam konteks teologis, tentunya ini menjadi permasalahan yang serius. Yang akhirnya memicu konflik dan ketegangan sesama antar pemeluk umat beragama.
Untuk memahami berbagai kasus kekerasan atas nama agama, dalam konteks ini pengrusakan tempat ibadah menjadi titik tekannya. Sehingga penulis perlu melihat berbagai motif kejadian tersebut sebagai bahan landasan dari paper yang akan penulis kembangkan pada pembahasan selanjutnya. Pendekatan sejarah tempat ibadah menjadi bagian yang sangat penting dalam konteks ini. Pada akhirnya kita akan melihat seberapa jauh penghormatan tempat ibadah dalam kehidupan beragama yang serba kompleks tersebut.
Tempat ibadah adalah istilah yang digunakan oleh pemeluk berbagai agama, umat islam menamakan Masjid sebagai tempat ibadah sehari-harinya, sementara orang Kristiani menamakan Gereja untuk beribadahanya. Berbeda dengan umat Muslim dan Kristiani, dalam masyarakat Khonghucu Klenteng menjadi nama dan simbol bangunan dalam tempat ibadahnya. Ibadah adalah istilah yang dipinjam dari bahasa Arab.[2] Dari akar kata ‘abada-ya’budu-ibadatan. Yang artinya “beribadah, ngibadah, menyembah”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan “Perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005, hlm 415).
Ibadah dan tempat ibadah dalam konteks ini tentunya berbeda, hanya saja dalam bahasa Arab istilah ini masih satu rumpun dari ‘abada-ya’budu-ibadatan. Secara teologis istilah ibadah diidentifikasi sebagai perbuatan yang selalu mengarah untuk penyembahan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Yang tentunya ini memberi pengertian kepada kita bahwa ibadah adalah bentuk kegiatan yang bersifat pekerjaan, sedangkan tempat ibadah adalah suatu bangunan untuk menyembah atau melakukan ibadah. Dalam paper ini penulis hanya akan membahas tempat ibadah dalam masyarakat muslim yaitu Masjid dan masyarakat Kristiani yaitu Gereja. Pembahasan tersebut meliputi bagaimana penghormatan tempat ibadah dalam kedua agama tersebut. Sehingga paper ini bisa menjelaskan perbandingan teks dari kedua agama besar tersebut melalui pendekatan sosiologis dan historis.
A. Sejarah Tempat Ibadah
Dalam masyarakat beragama, tempat ibadah menjadi bagian yang sangat fundamental. Hal ini menjadi bagian integral sebagai tempat perkumpulan komunitas beragama.[3] Joachim Wach menyebutnya sebagai tempat persekutuan agama. Dalam sejarah perkembangan agama-agama, tempat ibadah menjadi sarana untuk berkumpul dan menyampaikan misi kenabian dari pembawa risalah tersebut. Biasanya pembawa risalah berkumpul dan menyampaikan pengajaran kepada umat sebagai bagian dari misi kenabian. Dalam tradisi kristiani berdoa atau beribadah bisa dilakukan dalam tempat-tempat yang tidak selalu di khususkan kepada Gereja.
"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada bapakmu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Matius 6:6 hlm. 13.
Tentunya bunyi ayat Matius tersebut memberi gambaran kepada kita bahwa melakukan peribadatan tidak selalu harus dilakukan di dalam gereja atau tempat ibadah secara formal. Dalam agama islam rumah ibadah Masjidil Haram diketahui sebagai tempat ibadah yang pertama kali dibangun dan disempurnakan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Hanya saja dalam konteks sejarah kenabian Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw.[4]

1.      Masjid
Masjid adalah tempat ibadah bagi umat islam diseluruh dunia, tentunya ibadah dalam konteks ini ibadah tidak hanya ritual Hablum min Allah semata akan tetapi Hablum min Anas harus juga diperhatikan bersama. Pada mulanya masjid adalah tempat berkumpul para sahabat untuk mendengarkan ceramah dan pengajaran keagamaan yang disampaikan oleh Nabi Muhammada Saw. Masjid adalah isim makan dari akar kata Sajada, Yasjudu yang artinya tempat untuk bersujud. 
"Dan Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jin, ayat 18)
Secara garis besar masjid adalah tempat ibadah bagi seluruh umat islam, dan Qur'an Surat Al-Jin ayat 18 menegaskan bahwa tempat ibadah bagi umat muslim adalah masjid. Namun demikian masjid pada masa perkembangan awal di zaman Nabi Muhammad Saw dijadikan sebagai tempat untuk membangun umat.
2.      Gereja
Tempat ibadah bagi umat Kristiani di Indonesia lebih popular dikenal dengan nama Gereja. Pada dasarnya istilah Gereja yang dipakai di Indonesia dipengaruhi oleh bahasa portugis igreja, sedangkan dalam bahasa Spanyol iglesia yang mengacu kepada akar kata Yunani ekklesia.[5] Bahasa Portugis lah yang memberi pengaruh luar biasa, sehingga sampai sekarang istilah Gereja lebih populer di Masyarakat Indonesia. Istilah gereja secara umum adalah tempat atau bangunan untuk sekumpulan pemeluk agama Kristen. Sementara secara formal istilah gereja mengacu kepada Institusi keagamaan agama Kristen baik Agama Kristen Katolik maupun Protestan. Biasanya istilah gereja digunakan tidak selalu tunggal. Seperti dalam kalangan Protestan istilah ini dibarengi dengan padanan kata jemaat.
Sejarah awal gereja ditandai dengan kehadiran Yesus itu sendiri. Dimana gereja terbentuk ketika Yesus memanggil orang-orang yang percaya kepadanya untuk menjadi muridnya. Dalam Kolose 1:18 "Dialah (Kristus) kepala tubuh, yaitu jemaat." Dengan demikian yang dimaksud gereja adalah suatu kelompok yang percaya kepada Yesus Kristus.[6] Dengan demikian gereja secara substansial terbentuk atas pranata tubuh Yesus yang artinya kehadiran Gereja adalah kehadiran Yesus Kristus itu sendiri. Ini menandakan bahwa Gereja bukan hanya institusi formal atau pranata struktur organisasi semata, lebih dari itu gereja adalah Yesus Kristus itu sendiri.
Sebenarnya sulit menyamakan antara Masjid dalam konteks tempat ibadah umat muslim dan Gereja dalam konteks tempat ibadah umat Kristiani. Karena pada hakekatnya gereja tidak sama dengan masjid-masjid dalam perspektif umat muslim, sedangkan Gereja adalah kristus itu sendiri.
“Geredja adalah tjiptaan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Geredja adalah keluarga Allah Bapa, Geredja adalah tubuh Kristus, Geredja adalah Bait Sutji kediaman Roh Kudus.”[7]
Namun demikian seiring dengan kesulitan menyamakan padanan kata yang tepat antara Masjid dan Gereja, penulis menemukan keterangan yang ditulis oleh J. Verkuyl dimana Bait Sutji bisa menjadi padanan kata yang menurut hemat penulis hampir sama dengan masjid sebagai tempat sucinya orang-orang muslim. Dan semoga saja keterangan tadi bisa memberi sedikit gambaran tentang gereja dalam konteks pembahasan paper ini.
B. Pembahasan Tempat Ibadah
Dalam bab ini penulis mencoba menjelaskan tempat ibadah yang bersandar kepada Ayat-Ayat Al Qur’an sebagai rujukan utama. Hal ini diperlukan sebagai penjelas bagaimana teks tersebut berbicara dalam konteks pembahasan penghormatan tempat ibadah. Namun demikian pengambilan teks dari Perjanjian Baru pun diperlukan sehingga penjelasan ini memberikan gambaran secara menyeluruh bagaimana kedua teks tersebut berbicara.
1.      Tempat ibadah umat Islam
Seperti yang penulis paparkan di awal tulisan paper ini, bahwa tempat ibadah bagi umat islam ialah Masjid. Masjid menjadi representasi utama bagi umat islam pada umumnya sebagaimana teks Al Qur’an menjelaskan bagaimana pentingnya sebuah masjid.
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS, At-Taubah, Ayat 18)."
Teks ini menjelaskan bagaimana seorang muslim adalah orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah. Secara global ayat ini menekankan kepada kita bahwa seruan untuk memakmurkan masjid adalah hal utama bagi seorang muslim. Sehingga penghormatan terhadap tempat ibadah seperti halnya masjid menjadi bagian yang sangat dianjurkan. Bahkan dari Utsman bin Affan bahwa Rasulullah, bersabda
من بنى مسجدا الله بنى الله له في الجنة مسله
"Barang siapa mendirikan suatu masjid karena Allah, niscaya Allah mendirikan untuknya seperti yang ia telah dirikan di Surga" (HR. Bukhori dan Muslim)
Masjid pun adalah pasar akhirat hal ini memberikan gambaran bahwa masjid adalah ladangnya tempat untuk beribadah kepada Allah Swt. Dimana perumpaan masjid sebagai pasar akhirat tentunya menjadikan masjid sebagai tempat untuk berbuat kebaikan.
2.      Tempat Ibadah umat Kristiani
Dalam ritual peribadatan umat kristiani, tentunya ajaran kebaikan dan cinta kasih menjadi hal yang paling utama sehingga Gereja menjadi pusat dari pengajaran kebaikan untuk umat manusia. Dalam Injil Markus diceritakan bagaimana ketika Yesus berada dalam rumah ibadah dia langsung memberikan pengajaran kepada orang-orang.
"Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadah dan mengajar. Mereka takjub mendengarkan pengajaran-Nya, sebab ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli taurat. Markus 1:21&22. hlm. 52.[8]
Dalam bagian lain umat kristiani dianjurkan untuk berdoa dan beribadah di tempat peribadatan sebagai bagian dari kewajiban seorang pemeluk Kristus. Hal demikian adalah suatu kewajiban bagi seorang pemeluk yang beragam Kristen. Setelah memutuskan untuk menerima Kristus, seorang Kristiani di haruskan mencari tempat ibadah, persekutuan atau perkumpulan yang dapat membantu seorang individu dalam bertumbuh sebagai seorang percaya yang baru dengan pengajaran yang benar mengenai AlKitab.
Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juru selamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya. 2 Petrus 3:18 hlm. 362.
Dengan demikian umat kristiani diharuskan untuk membangun sebuah kehidupan yang berdasarkan firman. Karena secara kontekstual Gereja "dituntut untuk membagikan kebenaran Firman dan buah-buah Roh! Inilah hakikat Gereja sebagai persekutuan para pemercaya, yakni Manusia dalam pimpinan Roh"[9]
C. Penggunaan Tempat Ibadah
Menggunakan tempat ibadah adalah suatu kebutuhan bagi setiap pemeluk umat beragama. Namun demikian penggunaan tempat ibadah menjadi suatu problem bersama ketika komunitas antar umat beragama menjadi tidak saling menghormati yang pada akhirnya menjadi konflik kekerasan atas nama agama. Hal ini tidak menutup kemungkinan untuk menjadikan tempat ibadah seperti Masjid, Gereja, Vihara, Klenteng sebagai sasaran utama amuk masa tersebut. Sehingga pengrusakan tempat ibadah menjadi hal yang sangat wajar di kalangan pemeluk antar umat beragama karena tidak adanya rasa saling menghormati sesama antar pemeluk.
Artinya : Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS. Al-Kafirun, Ayat 6)
Akhirnya QS. Al-Kafirun, Ayat 6 pun tidak memberi jaminan bahwa pemeluk umat beragama bisa saling menghormati ketika dihadapkan kepada konflik tempat ibadah. Padahal dalam Ayat lain Allah menjelaskan dengan sangat bijak sekali bahwa menghormati tempat ibadah bagian keharusan setiap manusia.
Artinya : (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan Kami hanyalah Allah". dan Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa. (QS. Al-Hajj, ayat 40)
Dalam agama Kristiani tidak ada larangan seketat agama Islam, hal ini tentunya memberi penjelasan kepada kita bahwa tidak ada larangan apa pun bagi umat Kristiani untuk beribadah dimana pun termasuk dalam tempat ibadah umat muslim.[10] Sedangkan bagi pemeluk umat islam penggunaan tempat ibadah diatur secara ketat sesuai hukum fiqih yang berlaku. Yang pada akhirnya menimbulkan beberapa pendapat yang berbeda termasuk melakukan ibadah di dalam gereja.
D. Refleksi Pengalaman Sehari-hari
Perbedaan tentang boleh tidaknya seorang muslim masuk tempat ibadah non muslim terkadang menjadi polemik yang berlebihan. Akhir-akhir ini tepatnya pada tanggal 25 Desember 2015, diberitakan tentang 14 mahasiswa yang melakukan peribadatan di Gereja Kristen Jawa Margoyudan Solo.[11] Tentunya berita tersebut mengundang berbagai polemik terlebih netizen di dunia maya. Sebagai mahasiswa Studi Agama dan Resolusi Konflik tentunya penulis melihat apa yang terjadi dalam polemik tersebut bisa ditarik dalam perbincangan paper ini.
 Ada tiga respon yang penulis kemukakan dalam paper ini terkait pemberitaan 14 Mahasiswa Studi Agama dan Resolusi Konflik yang turut hadir dalam acara Misa Natal di Gereja Margoyudan Solo. Namun sebelum melihat tiga respon tersebut penulis akan melihat beberapa teks yang berhubungan dengan boleh tidaknya masuk ke dalam tempat ibadah non-muslim. Dimana teks pertama yang sering dijadikan tafsir utama dalam membingkai wacana boleh tidaknya masuk sebuah tempat ibadah non-muslim adalah sebagai berikut.
Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum (dalam ciri khas mereka, maka dia termasuk bagian kaum tersebut” HR. Abud Daud 4031 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani.
Sementara dalam teks lain dijelaskan bahwa memasuki tempat ibadah non-muslim misal pada waktu hari raya dilarang dengan bersandar kepada ayat yang artinya 
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya"
Satu teks hadist dan Ayat Al Qur’an diatas sering dijadikan sandaran atas pemaknaan yang sempit tentang hubungan antar agama bahkan dialog antar agama. Penyempitan makna tersebut didasarkan akan kepentingan dari si penafsir sehingga menimbulkan pergesekan bahkan konflik yang tiada berkesudahan.
Dalam konteks makalah yang penulis sajikan ini, bila disandingkan dengan kasus 14 Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang sedang kunjungan ke Gereja Margoyudan Solo, maka akan tampak nyata perbedaannya. Menurut hemat penulis, terdapat tiga respon utama dalam menyikapi kasus tersebut, diantaranya.
Pertama menolak, hal ini ditandai dengan banyaknya cacian dan makian di kolom komentar media yang memberitakan kejadian tersebut. Tentunya beberapa komentar tersebut didasarkan berbagai latar belakang pendidikan para netizen yang melihat itu sebagai bagian dari merusak akidah, mencampurkan akidah bahkan terkadang komentar-komentar dari netizen tersebut tidak ada kaitannya dengan tema pemberitaan di media yang bersangkutan.
Kedua menerima, dalam konteks ini maksud menerima adalah para netizen yang membaca berita tersebut melihatnya sebagai bagian dari proses studi yang sedang dijalankan oleh para mahasiswa yang diberitakan oleh media. Artinya para netizen tersebut bersikap bijak dalam membaca berita tersebut. Bahkan beberapa netizen mencoba meluruskan terkait pemberitaan yang dilakukan oleh wartawan di media tersebut.
Terakhir bersikap netral, meski kita melihat ada dua perbedaan yang mencolok antara yang menerima bahkan ada yang menolaknya dengan keras. Namun sebagian netizen ada yang bersikap netral terkait pemberitaan tersebut yang pada akhirnya dalam kolom-kolom komentar di media online tersebut lebih banyak menjadi pembaca semata dan tidak memandang itu sebagai hal yang dilarang dan di bolehkan.
Dari tiga respon yang ada dalam kolom komentar pemberitaan terhadap 14 mahasiswa Studi Agama dan Resolusi Konflik tersebut tentunya bisa dikaitkan dengan bagaimana hubungan muslim dan kristiani sampai saat ini masih pasang surut. Terlebih tema tentang penghormatan tempat ibadah dalam konteks ini tidak hanya melihat tempat ibadah sebagai bangunan ritual keagamaan tertentu semata. Lebih-lebih dalam konteks kebutuhan akan sebuah penelitian sekalipun umumnya beberapa kalangan masyarakat masih menilai itu masih tabu.
Pengalaman yang baru saja penulis uraikan diatas tentunya menunjukan akan sikap toleransi terhadap kehidupan beragama masih dipandang dengan cara curiga dan mencurigai. Terlebih proses menafsirkan yang selalu disalah artikan menjadikan pembaca terkadang jauh dari pemaknaan sesuai realitas yang sebenarnya. Dalam hal ini tentunya penggunaan metodologi yang benar sangat dibutuhkan sebagaimana sebagaimana Focoult pernah berujar bahwa proses pemaknaan sejatinya tidak pernah terselesaikan. Maka proses penghormatan tempat ibadah dan kegiatan keagamaan yang berbeda harus dimaknai dan ditafsirkan secara berulang-ulang ke arah yang lebih baik.
E. Kesimpulan
Dari penjelasan yang bisa penulis sampaikan tentunya bisa ditarik kesimpulan bahwa menghormati tempat ibadah adalah suatu keharusan bersama setiap manusia. Namun demikian perbandingan ayat Al- Quran dan teks-teks dari Perjanjian Baru tentunya memberikan pandangan yang berberda dalam konteks ini. Jika dalam agama Islam, Masjid adalah tempat ibadah yang ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Jin, Ayat 18. Maka dalam teks perjanjian baru penulis tidak menemukan istilah yang sama. Hanya saja bobot untuk saling menghormati tempat ibadah tidak mengurangi pembahasan dalam paper ini.
Perbandingan keduanya mengindikasikan adanya dua pemaknaan yang berbeda. Namun demikian penghormatan tempat ibadah dalam konteks masyarakat indonesia yang sangat majemuk dirasa sangat dibutuhkan. Terlebih ketegangan dan konflik atas nama agama biasanya banyak melibatkan bangunan fisik semisal tempat ibadah yang pada akhirnya merugikan umat beragama tertentu.



   Daftar Pustaka
Fajrul Munawwir “ Ibadah” dalam H.M. Nur Kholis Setiawan dan Djaka Soetapa (ed.), Meniti Kalam Kerukunan (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2010)
Joachim Wach, Ilmu Perbandingan Agama, Inti dan Bentuk Pengalaman Keagamaan terj. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996)
Siswanto, Panduan Praktis Organisasi Remaja Masjid, (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2005)
Yahya Wijaya “ Gereja” dalam H.M. Nur Kholis Setiawan dan Djaka Soetapa (ed.), Meniti Kalam Kerukunan (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2010)
Agus Santosa "Agape dan Spiritualitas Gereja" dalam Eka Darmaputera (ed.) Kepemimpinan Kristiani: Spiritualitas, etika, dalam era penuh perubahan (Jakarta: Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, 2001)
J. Verkuyl, Ras, Bangsa, Geredja, Negara, Etika Politika terj Soegiarto (Djakarta : Badan Penerbitan Kristen, 1967)
Ahmad Farid Al-Majid(ed.), Tashil Al Maqosid Li Zuwwar Al Masajid. (Lebanon: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah. 2006)
Teks Perjanjian Baru Mazmur dan Amsal, (Jakarta: Diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, 2011), hlm. 52.
Wawancara via sms dengan Pemeluk Umat Kristiani pada tanggal 17 Oktober 2015.
Http://www.merdeka.com/peristiwa/14-mahasiswa-uin-yogya-ikut-ibadah-malam-natal-di-gereja-di-solo.html.






[1] Pembakaran Masjid, Pengrusakan tempat ibadah Gereja, Pemboikotan pembangunan tempat ibadah, dll.
[2] Fajrul Munawwir “ Ibadah” dalam H.M. Nur Kholis Setiawan dan Djaka Soetapa (ed.), Meniti Kalam Kerukunan (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2010), hlm. 218.
[3] Joachim Wach, Ilmu Perbandingan Agama, Inti dan Bentuk Pengalaman Keagamaan terj. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm, 147.
[4] Siswanto, Panduan Praktis Organisasi Remaja Masjid, (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2005), hlm. 24.
[5] Yahya Wijaya “ Gereja” dalam H.M. Nur Kholis Setiawan dan Djaka Soetapa (ed.), Meniti Kalam Kerukunan hlm. 454.
[6] Agus Santosa "Agape dan Spiritualitas Gereja" dalam Eka Darmaputera (ed.) Kepemimpinan Kristiani: Spiritualitas, etika, dalam era penuh perubahan (Jakarta: Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, 2001), hlm. 100.
[7] J. Verkuyl, Ras, Bangsa, Geredja, Negara, Etika Politika terj Soegiarto (Djakarta : Badan Penerbitan Kristen, 1967), hlm. 220.
[8] Teks Perjanjian Baru Mazmur dan Amsal, (Jakarta: Diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, 2011), hlm. 52.
[9] Agus Santosa "Agape dan Spiritualitas Gereja" dalam Eka Darmaputera (ed.) Kepemimpinan Kristiani: Spiritualitas, etika, dalam era penuh perubahan, hlm. 101.
[10] Wawancara via sms dengan Pemeluk Umat Kristiani pada tanggal 17 Oktober 2015.
[11] Lihat situs terkait pemberitaan 14 Mahasiswa tersebut di http://www.merdeka.com/peristiwa/14-mahasiswa-uin-yogya-ikut-ibadah-malam-natal-di-gereja-di-solo.html

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar