Belajar Lewat Leela Gandhi

Ketika Edward Said menerbitkan bukunya dengan judul Orientalisme dunia akademik terbelah menjadi dua bagian yang pertama mengamini apa yang diajukan oleh tesis Said sementara kalangan lain mencoba menangkis serangan-serangan yang dibangun oleh Said. Munculnya Said dengan buku Orientalisme tentunya membawa angin segar dalam konteks kajian ketimuran. Sebagai intelektual yang lahir dari rahim dunia Timur tentunya Said paham betul bagaimana ketimpangan yang diciptakan oleh Barat. Sebagai pembanding Said melihat bahwa hegemoni Barat tidak saja membuat wilayah-wilayah Timur miskin secara ekonomi akan tetapi secara kebudayaan Said melihat bagaimana Barat begitu superioritas terhadap Timur.
Kritik Said tersebut dalam konteks akademik mendapatkan berbagai respon dan dukungan dari pelbagai pihak termasuk Lella Gandhi seorang tokoh perempuan yang lahir di India. Gandhi melakukan terhadap kajian post kolonial dengan tema sentral posisi perempuan dalam dalam dunia post kolonial. Kajian tentang perempuan dalam dunia kekuasaan kolonial sebenarnya mengalami perkembangan yang signifikan. Gayatri Spivak misalnya dalam salah satu artikelnya “Can Subalterm Speak?” berpendapat bahwa pada dasarnya Subalterm tidak bisa berbicara. Konteks Subalterm disini adalah para perempuan yang ada di dunia kolonial karena para perempuan tersebut selain terjajah oleh kolonial secara kultural mereka tersubordinasikan oleh kaum kolonial dan Pribumi.

Teori Poskolonial yang merupakan sekumpulan hibridasi dari pertemuan antara sastra, bahasa, dan identitas kultural yang garis titik temunya ada di pemikiran postmodernisme menemukan dirinya sendiri dalam jangkauan yang berkelindan satu sama lain. Pada titik ini Gandhi berbicara mewakili kaum perempuan dalam dunia poskolonial sebagai upaya kritik teoritik yang selama ini telah mapan. Secara teoritik Gandhi mencoba mengajukan beberapa gugatan terhadap sejarah kolonialisme dan korelasinya dengan ilmu pengetahuan sebagai kekuasaan. Dimana dampak kolonial tidak saja memberikan aksen buruk terhadap kultur masyarakat pasca kolonial akan tetapi secara nyata penuh dengan kebingungan dan ketakutan akan kegagalan sejarah masa lalu dalam cermin bayang-bayang kolonial.
Gandhi berpendapat bahwa nilai teoritis poskolonial terletak kepada kemampuannya dalam mengelaborasi memori-memori yang sudah terlupakan, hanya saja jika poskolonial dapat digambarkan sebagai suatu kondisi amnesia historis. Dengan demikian problem tersebut bisa saja dipecahkan dengan merujuk kepada teori amelioratif dan therapeutic yang secara meyakinkan mampu merespon dengan cepat ingatan masa lalu kolonial.

Secara keseluruhan buku ini berbincang tentang poskolonial dari pelbagai perspektif sebagai upaya dari kritik Gandhi terhadap kolonialisme yang pada akhirnya ingin melihat dan mempertimbangkan dengan serius bagaimana sejarah, relasi hubungan terjajah dan penjajah adalah sejarah masa lalu yang perlu ditinjau ulang agar “budak pada akhirnya harus lari dari tuannya untuk menempa makna eksistensinya dalam pekerjaan. Ia hanya dapat memperoleh kembali integritasnya dengan bekerja melampaui kerapatan materi yang selama ini membatasinya.” Karena secara spontanitas bahwa hubungan tuan-budak akan melahirkan rasa tidak puas yang berujung pada kelumpuhan. Waalahu Alam

amenesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar